Arsip Blog

Minggu, 24 Juni 2018

Dakwah Dalam Sepotong Status

Zaman dahulu jika ingin belajar agama, kita rutin mengikuti talim mingguan atau bulanan, mendatangi guru di masjid/musolla atau majlis ilmu, menyimak dengan ta'zim setiap uraian kyai, ada interaksi dan ekpresi langsung antara murid - guru dan pastinya ada kitab yang dijadikan rujukan, setiap masalah bisa kita tanyakan langsung dengan penjelasan rinci dan jelas.

Jika ingin menjadi pendakwah profesional sekaligus paham ilmu agama lebih mendalam, ada sekolah formal khusus agama, mulai dari tingkat dasar Madrasah Ibtidaiyah, tsanawiyah, aliyah sampai perguruan tinggi agama, ada sekolah sistem pesantren dengan metode pembelajaran 24 jam dalam asrama, sehingga interaksi murid-guru-kyai terjaga setiap saat.

Pada sekolah formal ada kurikulum, metode, buku dan kitab rujukan sehingga pemahaman keagamaan bisa di terima utuh, berkesinambungan dan dapat menghasilkan lulusan yang bisa diandalkan menguasa ilmu agama mulai dari aqidah, syariah, fiqh, bahasa arab sampai sejarah.

Butuh waktu puluhan tahun untuk bisa paham agama lebih mendalam, jika dihitung belajar agama di sekolah formal mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi diperlukan waktu sekitar 17 tahun, apalagi kalau mengejar pendidikan formal sampai S3 butuh lebih dari 20 tahun.

Era sekarang menuntut ilmu dan berdakwah banyak memanfaatkan media sosial, jika yang berdakwah ulama mumpuni sih ok, faktanya seseorang yang memahami secuil agama bisa berdakwah, tinggal menulis status, lalu dibaca publik, jika dianggap bagus langsung di share oleh ahli share, dengan menshare sudah dianggap menebarkan kebaikan, tak peduli share itu dibaca atau tidak, sing penting bagi status dan itu sudah dianggap berdakwah.

Paling menjengkelkan share tidak tepat waktu, lagi bahas sesuatu di grup WA mendadak muncul share tulisan yg tidak jelas sumbernya, cukup ditulis dari copas tetangga, ketika di coment itu status marah, sampai bilang anda tidak suka nasehat dan ajaran agama ya? Wkkk.

Nah karena sebagian nitizen males membaca, mereka tidak suka status kalimat panjang, padahal kalimat panjang diperlukan untuk lebih dalam memahami sebuah pesan, mereka senangnya kalimat pendek, meme bentuk gambar dengan secuil teks atau potongan video ustadz memberi fatwa paling lama dua menit, tidak lupa untuk memperkuat argumen ada dalil quran dan hadist.

Tidak peduli siapa pendakwah di medsos, latar belakang keilmuwannya, wawasan keislamannya, asal bisa nulis status agama menarik dan bisa nempatin dalil quran dan hadist yang pas, banyak yang suka, apalagi dilabelil dengan kata sunnah atau sesuai sunnah wah tulisan anda jaminan mutu dah, pasti di share atau copas banyak orang.

Di era sosmed banyak yang mendadak kyai, baru menguasai satu dua dalil sudah berani berfatwa di sosmed halal haram, sunnah-bidah, banyak juga yang mendadak religi, didunia maya menjadi sosok sangat soleh dan soleha sering-sering bikin status nasehat agama dan berbagi status keagamaan.

Jika pernyataan disanggah, maka copy paste dari pihak lain dijadikan argument, ketika sudah terpojok karena logikanya tidak nyambung, maka senjata terakhir muncul, jangan berdebat, tinggalkan berdebat itu tidak membawa manfaat.

Saya menyebutnya dakwah dalam sepotong status. Murid tidak perlu mendatangi guru, untuk belajar agama, baca status fb sambil leha-leha atau haha hihi nemu status agama yg menarik copas dan share.

Begitu juga para pendakwah sosmed, tidaklah penting siapa anda, toh para sosmed mania tidak peduli dengan latar belakang anda, cukup pakai nama kearab-araban seperti ummi fakir, ummi fattan, abu ammar, abu-abu lain, bikin status yang katanya sunnah pasti banyak penggemar.

Mungkin tanpa disadari ini merupakan gejala pendangkalan agama, banyak orang berguru pada pendakwah yang tidak jelas di dunia maya, miskin ilmu dan wawasan, sehingga nasehat agama yang dikeluarkan menjadi dangkal, terkadang bikin heboh cuma sekedar mengejar viral dan like.

Seorang ummi membuat status kegiatan bagi angpau di hari lebaran di bilangan membangun mental pengemis, tanpa melihat aspek sosilogis, sejarah, tradisi keagamaan pokoke itu dianggap tidak sesuai dengan ajaran rosul.

Aya-aya wae nih ummi, tradisi puluhan tahun kok di bilang pengemis, herannya tulisan itu viral dan disetujui banyak orang, manut bae dengan si ummi yang tidak jelas sosoknya, aneh bin ajaib pendakwah tidak jelas bisa menciptakan opini dahsyat.

Saya kira perlu dipikirkan organisasi formal keislaman seperti MUI, NU, Muhammadiyah, Persis, DDII dll untuk lebih memperhatikan dakwah di sosmed, agar sosmed tidak dikuasai oleh pendakwah yang tidak jelas latar belakangnya miskin wawasan dan keilmuwan.

Kamis, 21 Juni 2018

Macet


Macet itu hal biasa, jika kita tinggal dikawasan Jabodetabek macet menjadi santapan sehari-hari, ada banyak faktor penyebab macet yang paling utama tidak memadainya jumlah jalan dengan kendaraan. Setiap tahun kendaraan bertambah ratusan ribu, sementara jalan hanya belasan kilometer.

Macet di saat mudik juga biasa, kata orang yang sering mudik, tidak afdol mudik tanpa macet, bisa dimaklumi mudik macet, sangatlah berat mengelola manajemen lalulintas disaat jutaan orang dan kendaraan menuju titik mudik secara bersamaan, infrakstruktur sehebat apapun sangatlah sulit mengelola kendaraan yang mengalir beriringan ratusan kilometer.
Jadi jangan mimpi seolah kemacetan akan tuntas kalau tol Jakarta-Surabaya tuntas dan nyambung terus macet hilang.

Tahun ini para pemudik dimanjakan dengan memberi kesempatan seluas-luasnya dengan memberlakukan sistem satu arah, mereka nyaman dan lumayan lancar saat arus balik mudik, tapi di dalam kota terutama kawasan Bekasi dan pinggiran Jakarta kemacetan menjadi neraka, Jalan Inspeksi Kalimalang, Hasibuan dan kawasan seputar tol macet parah.

Lebih parah ada yang terjebak berjam-jam sampai ada yang itikap di jalan tol, hingga Dinas Perhubungan Bekasi mengeluh, tidak ada sosialisasi kebijakan satu arah mengakibatkan Bekasi lumpuh arus kendaraan stagnan. Pemudik nyaman, warga dalam kota tersiksa.

Solusi paling pas kata para pakar adalah memperbanyak angkutan umum yang murah, nyaman dan aman.

Comuter line contohnya sejak berubah sistem menjadi tepat waktu, murah, nyaman dan aman banyak yang beralih ke comuter line, saya termasuk di dalamnya, kalau ke Jakarta lebih asyik naik comuter line.

Parahnya angkutan massal ini bakalan terganggu dengan kehadiran kereta bandara, seperti neraka stasiun Bukit Duri, jalur kereta yang sudah sempit direcoki kereta bandara.

Inilah kebijakan yang harus di kritisi jalur baru di buat, sementara relnya dari zaman Belanda ya segitu-gitu saja, berebut dah antara CL kereta rakyat dengan Kereta Bandara milik investor, ujungnya bisa jadi kereta rakyat di kalahkan oleh kereta kapitalis berduit yang cuma mgejar keuntungan.

Kata-kata manis dilontarkan pejabat, kereta bandara tidak akan mengganggu CL, omong kosong bagaimana mungkin jalur sempit, terus nambah trip perjalanan tidak mengganggu? Orang bodoh juga paham.

Di bukit duri juga tidak ada solusi, konon kabarnya sang menteri perhubungan pernah bilang para roker boleh naik kereta bandara, ah lagi-lagi omong kosong mana mungkin kereta kapitalis bertarif tinggi di tumpangi rakyat jelata dengan tarif murah?

Jadi infrakstruktur angkutan massal harus di pikirkan, baik di dalam kota maupun keluar kota, bukan hanya tol yang lebih banyak di gunakan oleh kelas menengah pemilik kendaraan.

Kereta cepat Jakarta-Bandung dan Jakarta-Surabaya itu bagus, untuk memperbanyak pilihan angkutan massal mudik, tapi itu sepertinya masih mimpi, kereta cepat Jakarta-Bandung tidak ada kabarnya, mungkinkah nangkrak? Terus kereta cepat Jakarta-Surabaya hanya khayalan di siang bolong.

Kamis, 14 Juni 2018

Etika Copy Paste


Sudah lazim di zaman ini, para warganet sering copy paste tulisan orang untuk di share di wal pribadi entah tulisannya memang bagus, isinya mengenai di hati atau motif berdakwah.

Namun sebelum copy paste kita lakukan, pahami dulu tentang etika mengambil tulisan orang, apalagi tulisan itu untuk disebar di beranda FB agar anda tidak terkena masalah hukum.

Pertama harus anda pahami menulis itu sebuah karya kreatif yang tidak bisa dimiliki semua orang, membuat tulisan bagus adalah proses akumulasi dari belajar, pengalaman, membaca, kemampuan intelektual dan kreativitas yang panjang sehingga sebuah tulisan bisa disajikan, menjadi enak di baca, mudah di pahami dan paling penting yang wajib kita ketahui sebuah tulisan melekat hak kekayaan intelektual yang di lindungi hukum.

Maka anda tidak bisa mencopy paste secara serampangan tulisan orang tanpa menyebut nama dan sumbernya, misal saya membuat tulisan bagus, terus anda mengcopy paste di status FB anda tanpa menyertakan sumbernya dari saya, seakan itu karya anda atau menyamarkan sedemikian rupa sehingga pembaca salah persepepsi lalu meyakini tulisan itu karya anda, dalam dunia kepenulisan tindakan itu disebut plagiat atau penjiplak atau pencuri tulisan orang.

Sangsinya cukup berat, dalam dunia tulis menulis plagiat itu tindakan sangat tercela, bisa dikucilkan pelakunya, gelar akademik di cabut bahkan bisa dikategorikan tindakan kriminal yang ujungnya bisa masuk penjara, dalam UU ITE mereka yang menulis dan menyebarkan tulisan mengandung unsur SARA bisa kena pasal pidana.

Bayangkan anda mengcopy paste tulisan orang di wal FB pribadi, terus viral, anda tenar dan bangga karena terkenal, namun kebanggaan itu semu karena anda tidak lebih hanya seorang pencuri yang berburu like dan coment untuk popularitas.

Jika ada yang coment di wall anda dengan argumentasi yang kuat, anda pasti gagap tidak bisa menjawab, karena tidak paham dan menguasai persoalan tulisan itu, terus ada nitizen yang tahu membongkar aib anda mencuri tulisan orang, akhirnya anda di permalukan sebagai tukang jiplak, itupun kalau punya malu, kalau tidak ya lanjut hehehe.

Kalau ada penulis yang tahu tulisannya dicuri, lalu dia merasa tersinggung karena tulisannya di jiplak dan melaporkan anda ke pihak berwajib urusan juga bisa runyam.
Lebih parah lagi kalau tulisan yang anda copy paste itu mengandung unsur sara dianggap melanggar UU ITE, aparat hukum tahunya itu tulisan anda, bisa jadi anda dituduh sebagai penulis penyebar SARA, jadilah anda berurusan lagi dengan pihak berwajib.

Cara terbaik membagikan tulisan orang di FB jangan meng copy paste, cukup anda bagikan dengan memberikan coment, dengan membagikan, coment anda terpisah jelas dengan tulisan orang, dan tulisan yang anda bagikan dengan jelas memuat nama penulis dan juga linknya.
Kalau pun anda mau copy paste sebutkan Nama Penulis dengan jelas, sumbernya kalau perlu linknya. Jadi jika kelak tulisan itu bermasalah, anda tidak terkenan kasus hukum karena memang tulisan itu karya orang.

Dalam hal copy paste jangan cuma menulis dengan kata copas saja, tanpa menyebutkan secara jelas nama penulisnya, terus tulisan itu tersamar sehingga pihak lain mempunyai pemikiran itu karya anda itu mah licik namanya.
Cara copas yang baik kira-kira seperti ini, bisa diawali dengan coment anda bla bla bla, terus pisahkan dengan jelas coment anda dengan copy paste karya orang, bisa didahului dengan kata-kata bahwa tulisan dibawa ini adalah copy paste dari nama, sumber dari FB pribadinya link .........

Dalam dunia tulis menulis, mengutip tulisan orang lazim disebut referensi, jika anda pernah membuat skripsi, sepotong kalimat yang anda kutip diberi catatan kaki letaknya akhir halaman, pada catatan kaki itulah sumber tulisan di terangkan : judul buku, pengarang, penerbit, tahun, bahkan sampai halaman yg kita kutip.
Jika sepotong tulisan saja harus di beri catatan kaki, sebuah tulisan panjang mestinya harus lebih jelas lagi di sebut jelas sumbernya.

Seorang penulis akan seneng buah pikirannya di baca banyak orang, membagikan tulisan orang dengan menyebut sumbernya membuat penulis merasa dihargai, mereka akan dengan senang hati memberi ijin untuk copy paste, tapi kalau anda menjiplak bisa jadi seorang penulis marah dan meradang karya yg ditulis dengan susah payah dijiplak orang.

Jadi berhati-hatilah copy paste, jadilah nitizen yang cerdas, jangan mudah mengambil tulisan orang lalu pura-pura lupa anda pencuri, jangan punya moralitas rendah, sebaiknya mulai hari ini buat tulisan sendiri hasil perenungan pribadi, mudah kok menciptakan tulisan bagus, asal anda banyak membaca 
dan rajin latihan, jadi kesimpulannya jangan dibiasakan jadi plagiat, kalau pengen jadi penulis handal.
Tulisan ini saya buat untuk mengapresiasi teman-teman yang sangat menjunjung etika tulis menulis, mereka sewot sekaligus prihatin, tulisan saya yang viral itu di copy paste orang dan katanya viralnya melebihi wall saya, tanpa menyertakan nama saya, sampai mereka coment dan japri ke saya menumpahkan kekesalan si tukang plagiat itu.

Terima kasih untuk mamah SoeryaDian MozaixKayla AzzahraIntan Nurul Imamah
Ayo ngaku siapa yang copas tulisan saya dan tidak menyebut sumbernya? Salam untuk ibu Indrianti
Selamat Hari Raya Idul Fitri
Mohon Maaf Lahir Batin

Sabtu, 09 Juni 2018

Jangan Gampang Membangun Prasangka

TULISAN INI VIRAL DI FB DIBAGIKAN PULUHAN RIBU KALI
Sudah menjadi kebiasaan setiap ramadhan para orang tua, kakek-nenek, paman dan bibi menyiapkan uang recehan baru untuk dibagikan kepada anak, cucu, ponakan dan juga tetangga.
Tanpa diminta pun dihari raya idul fitri, para orang tua akan segera memberikan hadiah berupa uang yg besarnya hanya cukup buat beli es kepel kepada anak-anak, sebagai wujud kegembiraan menyambut hari raya
Angpau itu terkadang bentuk apresiasi kepada anak atau cucu yang masih kecil, dapat menjalankan puasa sampai tuntas, sehinggal layak diberi hadiah berupa uang.
Jika rejeki berlebih para orang tua rela menukarkan banyak uang dengan uang baru agar kesan memberi menjadi istimewa, inilah tradisi yang sudah melekat puluhan tahun.
Jadi yang harus dipahami, tradisi bagi-bagi uang di hari raya itu adalah semangat memberi dari orang tua ke anak-anak bukan sebaliknya anak-anak meminta seperti pengemis kepada yang lebih tua.
Sangatlah lebay jika tiba-tiba tradisi bagi uang itu dikatakan sebagai bentuk mengajarkan kepada anak mental pengemis, sebuah tulisan di FB sedang viral, judulnya sangat bombatis JANGAN AJARI ANAKMU JADI PENGEMIS DI HARI IED FITRI.
Penulis membangun narasi di awal tulisan tanpa data valid, seakan menuduh para orang tua banyak bermental pengemis :
"Liat tuh Om datang. Salim sana biar dapat uang"
"Ayo kita ke rumah teman ayah. Dia orang kaya, kalo kesana pasti dikasih"
Saya rasa tidak ada orang tua yang seperti itu, mengajarkan anak menjadi mental pengemis di hari raya, terlebih bagi-bagi uang itu hanya terjadi pada lingkungan keluarga dekat, hanya terjadi setahun sekali (ingat yang dibahas di sini dalam konteks hari raya saja ya, bukan diluar hari raya..!!!)
Imajinasi penulis saja yang kebangatan liar, hingga sampai hati menulis seperti ini, di ujung tulisan, penulis membuat kesimpulan ngawur seperti ini
"Sungguh malang nasibmu, nak.
Jika yang orang tuamu ajarkan adalah mental orang2 lemah"
"Mental peminta-minta yang justru sebenarnya dalam islam sangat dilarang."
"Tinggikan derajatmu dengan tidak mengajarkan si kecil meminta pada nenek, kakek, om, tante, paman, uwa, dll, dsb, dst di hari nan suci.
Wallahu a'lam"
What anak-anak diajarkan orang tuannya meminta-minta di hari fitri? Ngawur.
Cobalah berpikir dari cara berbeda, para orang tua di hari fitri sedang memberi contoh semangat berbagi kepada anak-anak juga kepada tetangga. Sehingga si anak bisa menauladani semangat berbagi dari orang tuanya.
Semangat berbagi itu dilakukan di saat silaturahmi kumpul keluarga, sesuatu yang sulit di lakukan selain hari raya, dalam suasana gembira.
Coba rubah sudut pandang anda menjadi positif terhadap tradisi itu, manakala anak anda di beri uang oleh keluarga bukannya ditolak, karena kurang baik menolak pemberian orang terlebih dari keluarga, tetap diterima seraya kita bilang ke anak.
"Nak ucapkan terima kasih ya, kelak kalau sudah dewasa nanti kamu harus mencontoh bapak/kakek/nenek mau berbagi rejeki kepada orang lain".
Sekali lagi, tidak ada orang tua yang mengajarkan anaknya menjadi mental pengemis, terlebih di hari fitri, ada memang anak-anak dan juga orang tua yang sengaja datang ke rumah tetangga yang mampu, untuk silaturahmi sekedar menikmati hidangan istimewa karena di rumahnya mungkin tidak ada, lalu tuan rumah menyambut dengan ceria dan membagikan uang.
Nah itu bukan mental pengemis itu hikmah ramadhan menjadi insan pemberi dan anak-anak yang kurang mampu ingin ikut merayakan kegembiraan bersama orang yang mampu, jangan di generalisir mereka bermental pengemis.
Bagi-bagi uang di hari fitri tidak akan mengakibatkan anak-anak menjadi pengemis atau bermental pengemis, kalaupun anda pernah mendengar, melihat bahkan mengalami sendiri disuruh atau diajarkan melakukan minta uang di hari lebaran oleh orang tua anda diwaktu kecil, kepada kakek-nenek-paman-bibi saya rasa itu hanya sekedar ungkapan kegembiraan, ditengah jalinan silaturahmi keluarga, diungkapkan dengan kalimat guyon bukan serius seperti layaknya pengemis meminta-minta dengan menadahkan tangan.
Toh faktanya anda yang barangkali pernah disuruh meminta uang di hari fitri, setelah dewasa tidak ada yang berfrofesi menjadi pengemis, bukan ajaran mental pengemisnya yang melekat, justru sebaliknya manakala anda sudah bekerja, sudah memiliki penghasilan sendiri, turut melestarikan tradisi ini, dengan menyediakan rejeki membagi angpau kepada para keponakan anda.
Mari rayakan idul fitri dengan mengapresiasi tradisi yang baik, jauhkan prasangka, janganlah gampang sekali membangun narasi dengan sudut pandang pribadi yang ujungnya membuat kesimpulan salah, ngawur dan menimbulkan ketersinggungan bagi yang menjalankan tradisi

Selasa, 15 Mei 2018

Tiga Wajah NU


NU atau Nahdiyin itu memiliki tiga wajah, Kultural, Sruktural dan politik, NU kulutural adalah secara sederhana digambarkan semacam rangkaian budaya khas keislaman indonesia yang sudah memasyarakat seperti maulid, tahlil, talqin dll, saat ini di gadang gadang dengan sebutan Islam Nusantara, sebuah paham yang menganggap Islam itu moderat akomodatif pada budaya lokal.

Dalam praktek dilapangan kegiatan budaya ini mendominasi praktek keislaman di negeri ini, disamping amaliah wajib umat islam seperti sholat, puasa dan haji

NU struktural adalah NU Jamiah, yaitu orang atau person yang akti v menjadi pengurus atau anggota NU, jumlah anggota NU jamaih tidak jelas, karena memang mereka belum punya database anggota yang mumpuni, jumlahnya juga tidak besar.

NU Politik adalah wajah NU direpresentatikan NU dalam wajah politik, jumlah NU politik itu juga kecil, tengoklah jumlah kursi PKB (partai anak kandung NU) di DPR tidak jauh lebih besar dengan partai PKS yang baru berdiri di awal reformasi.

Nah kalau selama ini selalu didengungkan NU diklaim sebagai organisasi dengan jumlah anggota terbesar bisa jadi ya, tapi harus dicatat itu wajah NU kultural bukan Struktural, apalagi wajah NU politik, karena sebagian besar ummat islam indonesia banyak mempraktekan cara keislaman NU kultural, namun tidak pernah terdaftar sebagai anggota NU Jamiah.

Wajah kultural itu tidak serta merta akan ikut maunya struktural, mereka massa mengambang bebas, yang tidak terikat pada aturan struktur organisasi, selama kultur mereka tidak di singgung, tidak akan ada diantara mereka yang patuh pada Struktural, tapi ketika kultur mereka disinggung, kultural bisa kecewa, struktural dengan banyak motif akan ikut bermain.

Peristiwa 212 adalah contoh wajah paradok NU struktural dan klutural, meskipun struktural koar-koar tidak setuju dan melarang ummatnya hadir dan tokoh yang jadi komando dianggap radikal (Habib Riziek) dan orang Muhammadiyah (Bahtiar Natsir) , faktanya lebih jutaan orang hadir disana, siapa saja mereka yang hadir? NU kultural lah yang mendominasi, mereka tidak patuh pada sabda struktural karena memang mereka tidak kenal dan tidak ada ikatan organisasi, uniknya meski dikomandoi Islam "Gariskeras" sholat Jumat memakai cara NU kultural, azan dua kali, terus dimulai dengan zikir dan tahlil ala ustadz Arifin Ilham ha..ha..ha..
Selama ratusan tahun NU kultural ini coba "diluruskan" karena oleh versi organisasi islam modernis dianggap menyuburkan penyakit TBC (Tahayul Bidah Churafat), hasilnya gagal total, NU kultural tetap eksis bahkan menjadi paham mayoritas negeri ini.

Pertarungan panjang modern dan tradisional pada akhirnya mencapai titik keseimbangan baru, paham modern fokus di bidang kesehatan, pendidikan dan kesehatan dan berkantong di wilayah-wilayah perkotaan dan perumahan baru dan NU menjaga wilayah pedesaan.

Tapi harus di catat meskipun NU mengendalikan desa tapi soal politik NU memang piawi, tokoh NU bisa di terima banyak pihak, makanya satu-satunya tokoh Islam Negeri ini yang pernah jadi Presiden adalah orang NU yaitu Gus Dur, Tokoh Muhammadiyah Sekelas Amin Rais bergelar bapak reformasi dan Hidayat Nur Wahid paling tinggi jabatannya ketua MPR he..he..he..

Ketika banser membubarkan pengajian salafy/HTI itu sesungguhnya melanggar fitrah NU Struktural beserta organisasi sayapnya, karena selama ini NU Sturkrural terkenal sebagai organisasi akomodatif dan kompromomi, tengoklah sejarah sejenak, ketika Soekarno mendengungkan bersatunya Nasionalis-Agama-Komunis bersatu dengan nama Nasakom NU ikut, ketika Komunis digayang awal Orde Baru NU terlibat, ketika rezim Orde Baru mengkampanyekan azas tunggal NU sami'na wa atohna, pun ketika sebagian besar umat sedang marah dengan Ahok, NU tetap berkepala dingin, bahkan ada kyai yg mengaku NU malah "membela" Ahok.

Kenapa mendadak bringas? Saya tidak tahu, tapi ini sekedar catatan saya pada saudara saya NU sruktural, secara pribadi saya sih NU Kultural, saya dan keluarga masih mengamalkan apa yg mereka sebut para wahabiria sebagai bukan sunnah mungkin juga bid'ah seperti perayaan maulid, haul, sedekah kematian,

Waktu orang tua saya meninggal ya tetep ngadain sedekahan 3 hari, 7 hari sampai 40 hari, nah kemaren saya hadir acara khas NU Kultural haul kakek tercinta bersama masyarakat pondok ungu.

Walau secara kultur NU, namun seumur-umur saya tidak pernah tercatat masuk NU Jamiah, dalam garis pergerakan saya malah lebih tertarik pada gerakan modern seperti Muhamadiyah.

Menurut saya apa yang disebut pengajian sunnah itu hanya pengulangan dari gerakan pemurnian agama yang pernah di lakukan Muhammadiyah dan Persis pada masa lalu, ada gesekan dilapangan karena menyangkut keyakinanya NU kultural, namun sangat jarang gesekan itu menjadi adu fisik apalagi sampai melarang dam membubarin pengajian.

Di kampung saya pernah ada seorang ustadz anak kandung NU terus berubah dan dianggap jadi Muhamnadiyah, saat Idul fitri dia beda hari, ustadz itu ngadain sholat id lebih awal, orang kampung saya yang NU kultural, tidak marah, cuek bebe, bagimu keyakinannmu, untukku keyakinanku, mereka lebih taat pada pemerintah yang netapin sholat id yang satu hari lebih lambat.

Jadi NU kultural tidak akan ada yang bringas selama tidak dikipasi tidak akan pernah menjadi bentrok kalau tidak ada yang ngomporin, jadi saya kira santai saja teman teman NU Struktural beserta organisasi sayapnya kalau ada orang yang suka membidahkan dan mengkafirkan ajaran NU kultural, toh mereka juga minoritas dan pasti gagal menghilangkan amalan dan budaya NU kultural.

Ummat NU Kultural sudah dewasa, jadi sebaiknya pembubaran pengajian yg mengatasnamakan sunnah itu jangan terulang, biarkan saja mereka mengamalkan apa yang mereka sebut dakwah sunnah, toh mereka belum tentu sukses merubah wajah Islam Indonesia.

Lalu bagaimana dengan khilafah? Ah itu cuma ilusi saja, ideologi khilafah tidak akan laku di negeri ini, mereka cuma minoritas kecil yang masih terobsesi pada masa lalu, di alam demokrasi keberadaan mereka di bolehkan, sebagaimana penggemar rok mini juga dibolehkan, selama pengusung khalifah belum di anggap ideologi dan organisasi terlarang oleh keputusan pengadilan negeri ini, seperti halnya PKI mereka berhak menyampaikan ide dan gagasannya, jangan jadi jaksa dan hakim melarang mereka hidup.

Ini hanya sekedar sumbang opini pribadi, boleh di di diskusikan dengan kepala dingin, bukan dengan emosi.

Jumat, 06 April 2018

MUI dan Kue Bika


Saat pertama kali Buya Hamka berpidato sebagai Ketua MUI, beliau menjelaskan posisi MUI dengan pemerintah dan masyarakat.

"MUI Laksana kue bika, Api membakar kue dari atas dan bawah. Api dari atas ibarat harapan pemerintah, sedangkan api dari bawah wujud keluhan umat Islam.” Hamka berusaha menjinakkan dua api itu melalui berbagai cara.

Dilema yang hampir mirip dialami KH. Mar'ruf Amin Ketua MUI saat ini, tatkala kasus Ahok mencuat Kyai Ma'ruf di puji banyak kalangan Islam karena ketegasan sikap dan kesaksiannya dalam kasus penistaan agama, membuat Ahok dan pendukungnya murka.

Hingga ahok keceplosan ngomong dan akan melaporkan Kyai Ma'ruf Amin, kelakuan ahok yg begitu merendahkan Kyai membuat berbagai kalangan marah hingga akhirnya Ahok meminta maaf dan divonis bersalah berujung penjara.

Dalam kasus Sukmawati, Kyai Maruf Amin dianggap lembek dan mudah sekali memaafkan tindakan Sukmawati, maka gantian ummat kecewa pada Pak Kyai, karena ucapan dan tindakan kyai tidak sesuai dengan harapan banyak ummat.

Salahkah Kyai? Saya rasa tidak, kyai sedang memainkan peran sebagai orang tua, dalam kasus Ahok, tidak ada itikad baik dari ahok untuk mendatangi ulama, dia dengan pongah mengaku tidak bersalah, tidak ada upaya mendatangi MUI, ketika umat meradang baru meminta maaf.

Sukmawati ada upaya sungguh-sungguh meminta maaf, mendatangi Din Samsudin dan MUI, mengadakan konperensi pers bareng MUI, wajar kyai sebagai orang tua menerima, memberi nasehat, memaafkan Sukmawati atas tindakannya yang salah.

Kalau ada yg tidak puas dengan pernyataan pak kyai, ya silahkan minta polisi proses hukum dengan tidak mencabut laporan, toh kyai cuma menghimbau, bukan memberi fatwa.

Stop menyalahkan kyai, fokus ke kasus Sukma, kalau memang tidak puas ya lanjut proses hukumnya, itu sudah ranah kepolisian, tapi jangan meradang dan menyalahkan orang tua kita yang berupaya nengatur keseimbangan.

Pak kyai sedang berupaya memasak kue bika agar tidak gosong, harapan dari pemerintah di tahun politik tidak gaduh dan harapan umat agar orang semodel sukmawati di beri pelajaran setimpal agar di lain waktu jangan sembarangan bertutur kata yang membuat umat marah.

Jumat, 16 Maret 2018

Local Heroes to Global Champions (Dari Bekasi Menaklukan Dunia)


Bermula dari mimpi sederhana, saya mempunyai keinginan menciptakan produk Kuliner Khas Bekasi, selama ini saya sering keliling ke daerah lain atau pergi mengunjungi tempat-tempat wisata, saat pulang pasti membawa buah tangan berupa oleh-oleh.

Bekasi oleh-olehnya apa ya? Itulah pertanyaan yang kerap menganggu pikiran saya, tanpa banyak teori, dibantu si cantik pasangan tercinta Yesi Herawati, sejak tahun 2011 saya menciptakan Bandeng Rorod, sebagai oleh-oleh khas Bekasi.

Bandeng Rorod bukan bandeng presto, Bandeng Rorod adalah bandeng isi tanpa duri, bumbunya merupakan resep warisan Ibu tercinta Hj. Siti Rohmani atau biasa di panggil Mpok Omah.
Dimulai dari membangun rumah makan hingga akhirnya Bandeng Rorod menjadi produk frozen food, di vacum plastik kedap udara lalu dikemas lux dan mewah.

Untuk lebih menjaga kwalitas produk, Bandeng Rorod pun telah lolos uji lab dan mendapat ijin edar dari BPOM RI MD 843228001171, merk bandeng Rorod sudah terdaftar di Dirjen HKI Kemenkumham dan pastinya sudah bersertifikat halal MUI.

Dukungan dari Pemkot Bekasi alhamdulillah sangat baik, kemudahan perijinan, pelatihan, promosi sampai support langsung dengan mengunjungi lokasi usaha, mulai dari Kepala Dinas UKM sampai Ibu Walikota saya dapatkan.

Mengapa Bandeng? Bekasi itu terpengaruh dua budaya, wilayah yang berbatasan dengan Jakarta terpengaruh budaya Betawi, sementara wilayah yang berbatasan dengan tanah Pasundah terpengaruh budaya Sunda dan saya orang Betawi Bekasi asli.

Bandeng bagi masyarakat Bekasi Betawi merupakan makanan istimewa, selalu hadir pada momen-momen istimewa seperti lebaran, pesta pernikahan dan khitanan, bandeng menjadi menu utama untuk disajikan.

Bandeng banyak diternak ditambak-tambak Pantai Bekasi yang berbatasan dengan Karawang. Muara Gembong adalah salah satu pusat tambak bandeng di Bekasi. Pantainya yang masih eksotik, dengan keramahan warganya, menjadikan Muara Gembong sering dijadikan wisata alam bebas yang masih perawan.

Mimpi tujuh tahun lalu kini terwujud, dari Bekasi, penjualan Bandeng Rorod kini sudah bisa merambah seluruh Indonesia, melalui media sosial, liputan media cetak, radio dan televisi masyarakat Bekasi dan luar Bekasi sudah mulai mengenal Bandeng Rorod sebagai oleh-oleh khas Bekasi yang wajib dicoba.
Benarlah kata Nidji dalam syair lagu laskar pelangi

Mimpi adalah kunci
Untuk kita menaklukan dunia
Berlarilah tanpa lelah
Sampai engkau meraihnya

Mimpi saya semakin nyata, tatkala PT. Telkom Indonesia melakukan binaan, bermula Telkom memberikan pinjaman lunak, lalu membangun kampung UKM digital dan akhirnya memperkenalkan Blanja.com sebuah market place milik anak negeri.

Lewat Blanja.com Bandeng Rorod di publish dan bisa diakses seluruh dunia melalui internet, melihat kenyataan ini, saya yakin suatu saat Bandeng Rorod dari Bekasi bisa menaklukan Dunia.

PT. Telkom Indonesia menjadikan Bandeng Rorod, sebagai salah satu Brand Ambasador acara Telkom Craft Indonesia II Tanggal 22-25 Maret 2018 di JCC Jakarta, untuk iklan kegiatan terbesar binaan UKM Telkom, menghadirkan sekitar 200 UKM binaan Telkom Seluruh Indonesia.

Nah video buatan buatan PT. Telkom Indonesia untuk profile bandeng rorod ini, menggambarkan betapa eksotisnya wajah Pantai Bahagia Muara Gembong Bekasi, dari sana bahan baku Bandeng Rorod di ambil.

Selama tiga hari saya beserta istri, di pandu sahabat saya Jawara Bekasi Utara Komarudin Ibnu Mikam, shoting menaiki perahu menyusuri pantai indah muara gembong.

yuk tonton videonya, per hari ini sudah di tonton lebih dari 20 ribu orang, like, coment dan viralkan ke teman dan sahabat anda

Link youtube nya