Arsip Blog

Minggu, 02 Desember 2018

Massa Diam Itu Tetap Solid

Hari ini saya bernostalgia, dua tahun lalu saat menghadiri Aksi Bela Islam, saya membuat tulisan di FB judulnya Massa Diam, oleh Koran Radar Bekasi Tulisan itu dimuat sebagai artikel dengan Judul "Ahok Diadili Masa Diam Akan Diam". Tulisan itu bisa di baca ulang di blog pribadi saya

Waktu itu ummat marah saat Ahok menista Al Quran, Seorang Ahok awalnya dengan pongah enggan meminta maaf, dia merasa dirinya jaya, berkuasa, didukung pusat kekuasaan dan media, tidak mungkin tersentuh hukum.

Dua tahun lalu, berbagai kecurigaan, intimidasi, label disematkan kepada peserta 212 yang menuntut Ahok diadili, mulai dari : intoleran, anti Pancasila, anti NKRI, ingin mendirikan khilafah, mau menjadikan Indonesia seperti Suriah, ISIS sampai Teroris

Pada akhirnya Berjuta orang dengan berbagai mode tranpotasi, mobil, motor, kereta, pesawat, sampai ada yang berjalan kaki, tumpah ruah menuju monas menuntut penista Quran dihukum, dunia terkejut, aparat kaget, para pembencir terperangah, kok bisa massa jutaan orang bisa berkumpul dengan tertib, aman, nyaman, hingga satu rumput pun tidak ada yang terinjak.

Pada akhirnnya Ahok tumbang, terhina dan terpenjara, pilkada KO, masa tanpa senjata yang diremehkan itu bisa menumbangkan kekuasaan yg didukung penuh rezim berkuasa, media dan dana tanpa batas.

Hari ini sama dengan dua tahun yang lalu, pembenci masih sama, tuduhan tetap sama dan rezim yang berkuasa juga sama, Reuni 212 kedua, lagi-lagi bikin heboh dan pusing para pembenci, mereka mencoba menghadang dengan berbagai cara dan ancaman, tetapi tidak mampu membendung arus massa laksana air bah mengalir tanpa henti.

Justru saya melihat alumni 212 semakin solid, jumlah peserta semakin bertambah, kekalahan si penista dan perilaku para pembenci yang saking bencinya berani membakar bendera tauhid membuat militansi mereka semakin tinggi dan terjaga selama dua tahun.

Jam 04.30 saya berangkat, stasiun Bekasi sudah penuh, kereta sesak, berdiri pun susah, ketika sampai stasiun Manggarai kereta dari bogor pun penuh, kawan saya mau berangkat sampai stasiun Bekasi pukul 05.30 nyaris tidak kebagian kereta.

Ketika sampai stasiun Gondangdia, harus antri setengah jam untuk keluar pintu masuk, saat menyusuri jalan ke monas, tetap saja ribuan orang tumpah ruah memenuhi jalan, memasuki monas pukul 07 pagi jutaan orang sudah duduk khusu mengelilingi monas dan kawasan sekitarnya.

Saya tidak bisa mendekati panggung utama, saking padatnya massa, yang bikin haru dan hampir air mata ini menetes, bendera Tauhid yang pernah di bakar dan dihinakan berkibar tinggi dengan gagah melalui tangan-tangan mereka yang cinta setulus hati atas kalimat ikrar itu.

Topi, sal, antribut Tauhid dikenakan semua peserta, memakai baju seragam nyaris sama berwarna putih, Monas pun sangat eksotis memutih, ada rasa haru menyaksikan suasana ini, jika anda hadir disini tiada biasa berkata selain berkata subhanallah Allah Hu Akbar.

Mereka dibayar? ah kamu teramat bodoh, bandar mana yang mampu membayar jutaan orang untuk menghadiri kegiatan yang tidak menghasilkan materi dan uangnya kembali?

Ternyata massa diam itu tetap solid, tetap bisa bergerak sendiri dengan komando jamaah-jamaah kecil, dengan iman di dada menyakini kalimat Tauhid di negeri ini masih bisa ditegakan.

ketika kamu masih berkeras kepala meremehkan massa ini seperti Ahok, lalu kamu terus menerus menghinakan kami, keyakinan kami, kecintaan kami, maka tunggu lah kau bernasib seperti Ahok tumbang dengan tragis.

Loh kok Reuni 212 jadi kegiatan politik? kami datang reuni mengenang perilaku seorang pemimpin yang dengan pongah berani menista Quran kita suci kami, agar dikemudian hari orang seperti itu tidak muncul lagi di bumi nusantara.

Kami bersilaturahmi, berukhuwah, berdoa, agar negeri kami di pimpin oleh orang soleh yang peduli pada agama, bukan pemimpin yang menzalimi ulama-ulama kami.

Bahwa pada ujungnya anda menilai itu politik, yah silahkan hak kamu menilainya, 2019 nanti, kami tahu siapa yang kami pilih, para Alumni 212 juga cerdas siapa yang bakal mereka pilih.

Kamis, 29 November 2018

Jurnalisme Warga.

Prabowo Unggul di media Sosial, Jokowi unggul di media konvensional.

https://pilpres.tempo.co/read/1150174/survei-median-prabowo-unggul-di-kalangan-pengguna-media-sosial.

Apa artinya? Media konvensional adalah media massa yang banyak dimiliki pemilik modal, koran/tabloid, majalah, televisi sampai radio.

Media konvensional sudah nyaris mendekati ajal, koran/tabloid dan majalah adalah korban pertama, sudah banyak media koran yang gugur, yang paling anyar Tabloid Bola milik Kompas Grup tahun ini sudah in memorium.

Bagaimana dengan majalah? podo wae dulu Femina Grup adalah dulu kiblat fasion nable para selebriti dan sosialita, terakhir saya ketemu dengan seorang karyawan Femina Grup kondisinya sekarang menurun dratis.

Radio? masih ada pendengarnya terutama buat warga Jakarta menghilangkan jenuh dan kemacetan, Televisi masih lumayan, banyak yang menonton buat sekedar hiburan, bukan untuk menonton berita.

Media yang naik daun adalah media online, kenapa? murah cukup langganan internet paket data 25 ribu bisa membaca ratusan media, tinggal buka linknya bisa baca berita sepuasnya gratis.

Media utama kini banyak yang mengalihkan bisnis medianya dari konvensional ke online, pemain besar media online saat ini tetap sama, dikuasa para pelaku bisnis media konvensional yg berubah wujud jadi online.

Sayangnya media utama baik online maupun konvensional terkena wabah mendukung penguasa, mereka berpihak, suka memframing berita, bahkan menurut Harsubuweno Arif sudah sampai tahap melakukan "kejahatan besar"

Saya kutip pendapat Harsubeno Arief

"Media-media arus utama sebagian besar larut dalam sebuah 'kejahatan besar' yang disebut sebagai framing (membingkai berita), atau di Indonesia dikenal dengan istilah 'pemelintiran' dan 'menggoreng isu'. Dua istilah terakhir ini bahkan jauh lebih jahat dari framing"

https://m.kumparan.com/hersubeno-arief/aksi-bunuh-diri-massal-pers-indonesia-1543248679039007452?utm_medium=post&utm_source=Facebook&utm_campaign=int

Masyarat mulai tidak percaya pada media arus utama, muncullah sebuah fenomena baru, Jurnalisme warga, dengan kekuatan jempol, warga bisa saling bertukar info dan memberitakan peristiwa setiap saat tanpa ada sensor dari redaktur media formal, tentu saja dari prespektif berbeda ketimbang media utama.

Ketika Prabowo unggul di media sosial, itu bentuk jurnalisme warga yang tidak ingin dikotopsi media utama, jurnalisme warga bangkit mengimformasikan hal kekinian yang mereka lihat dan rekam, mereka mampu mampu mengimbangi isu dan menconter berita yang dimainkan media utama.

Jurnalisme warga kini juga menyebar di grup-grup-grup WA dan Tele personal melalui HP, info ter-update dengan mudah dan cepat menyebar tanpa bisa di kontrol pemerintah.

Maka tak heran ketika semua media memberitakan negatif Aksi 212 saat Ahok jadi Gubernur DKI, pemerintah dengan segala cara berusaha membendung dengan ancaman dan melalui tokoh Agama Utama, faktanya jutaan orang membanjiri Monas.

Renald Kasali pernah menulis bahwa fenomena tumbangnya penjual konvensional seperti toko-toko di mall dan hipermarket/pasar modern adalah terjadinya proses pemindahan penjulan dari konvensional ke online, dampaknya konvensional tumbang online berjaya.

Di media sosial teori Renald untuk media online sudah sampai pada revolusi perpindahan kedua, tahap awal masyarakat berpindah dari media konvensional ke media online, namun ketika online terkotopsi penguasa, masyarakat membuat media sendiri dengan tenaga jurnalisme bisa siapa saja.

Jurnalisme warga rentan hoax? ah kamu pikir media utama bukan bagian dari penebar hoax? baca dah tulisan Harsubeno Arif, ketika media utama punya keberpihakan pasti beritanya menjadi berat sebelah.

Terus apa kita mesti percaya pada jurnalisme warga? ya tidak harus, di pilah secara cerdas informasinya, sebagaimana anda juga harus cerdas memilah berita di media utama, belum pasti berita jurnaslisme warga benar, tapi tidak juga media utama memberitakan sesuatu secara benar.

Rabu, 28 November 2018

Bangga Dengan Brand Sendiri


Kawan Saya Haji Agung Prasetyo Utomo, dalam setiap kesempatan selalu Memakai pakaian kebesaran Kaos Ayam Geprek Juara, sohib yang mendeklarasikan diri sebagai Panglima juara ini, adalah Owner Ayam Geprek Juara yang fenomenal.alam waktu kurang dari satu tahun Ayam Geprek Juara sudah punya puluhan cabang, hebatnya cabang itu bukan melalui modal pribadi, banyak yang kerjasama dengan sistem syirk
Mengapa Haji APU (biasa dipanggil namanya dengan singkatan) selalu memakai Kaos Ayam Geprek Juara? Saya yakin itu wujud kebanggaan sekaligus branding atas produknya.
Ada banyak cara membranding produk, salah satunya ya seperti yang dilakukan kawan saya ini, memajang branding produk disetiap kesempatan dan waktu pada dirinya melalui kaos yang dia kenakan.
Sehingga dengan mudah orang kenal, begitu melihat Ayam Geprek Juara, maka Wajah Haji Apu Muncul, begitu sebaliknya tatkala ayam geprek Juara nongol haji APU selalu hadir.

Maka tatkala Haji APU tidak memakai kaos Ayam Geprek Juara, ada yang nyentil di FB nya, kok nggak pakai kaos juara? hahaha branding sudah masuk.

Nah itulah yang saya lakukan juga dalam setiap kesempatan dan waktu, sebagai Owner Bandeng Rorod
selalu saya kenalkan dan tampilkan kepada setiap orang, setiap waktu, juga setiap nulis status di FB, kartu nama dan brosur selalu tersedia di dompet dan tas, siap saya bagikan jika ketemu orang baru, saya adalah Pemilik Bandeng Rorod.

Jadi bangga dan yakin terhadap brand sendiri merupakan cara ampuh untuk memperkuat keyakinan, bahwa bisnis yang kita geluti memang ok dan patut di apresiasi pihak lain.

Jika pada akhirnya orang mengenal saya dan bandeng rorod itulah yang sangat diharapkan, brand masuk nama menjadi tenar, nah ketika tenar kepercayaan diri dan orang kepada kita meningkat.
Pencitraan? ya memang kita wajib melakukan pencitraan terhadap usaha kita, kalau tidak mana mungkin brand kita dikenal.

Nah kelak jangan kaget kalau saya kedepan bakal meniru Haji APU kemana-mana pakai Kaos Bandeng Rorod.

Walau Wajah tidak seganteng Haji APU, minimal kan mendekati ganteng lah hahaha
Kalau Haji APU mendeklarasikan Diri Panglima Juara, bolehkan Kalau Saya memproklamirkan Afif Ridwan sebagai Jawara Bandeng Rorod?

Rabu, 10 Oktober 2018

Phobia Jilbab


Phobia terhadap jilbab sudah berlangsung lama di negeri ini, dimulai dari rejim orde baru yang memang sangat repreship dan anti terhadap islam politik, baca lebih lengkap di link berikut ini

Dikalangan liberal pun phobia terhadap jilbab sudah lama berlangsung, mereka menganggap jilbab tidak lebih dari pengekangan tehadap perempuan.

Di negeri yang konon mayoritas muslim pernah kok beberapa perusahaan, rumah sakit bahkan sebuah stasiun televisi diberitakan melarang jilbab sampai hari ini.

Namun gerakan jilbab laksana air bah, semakin di tekan energinya semakin membesar, kini jilbab sedang mencapai puncak popularitas. Nyaris semua aspek dimana kaum perempuan berkiprah jilbab sudah menjadi pemandangan biasa.

Heboh tentang jilbab dilarang di olahraga judo, itu hal yang lumrah, sebagaimana lumrahnya jilbab dulu dilarang, jangan dulu emosi, kalau memang itu ada aturan karena menyangkut keselamatan, ya tinggal cari bahan yg tidak membuat atlit celaka, berita dibawah ini contohnya

Di pabrik pada bagian produksi dengan sistem ban berjalan, pemakaian jilbab yang berkibar-kibar juga berbahaya dan bisa menimbulkan kecelakaan kerja, namun dengan jilbab modifikasi, jilbab bisa tetap di pakai untuk bekerja.

Kalau alasan keselamatan kerja atau kecelakaan saat bertanding judo, bukan jilbab yang jadi masalah, sebab yang namanya kecelakaan dalam kerja dan pertandingan olahraga, tidak mesti yang berjilbab saja yang bisa celaka, yang tidak berjilbab bisa celaka juga.

Tinggal dicari solusi jilbab yang tidak mencelakakan, bisa modif bahan, modif disain dan modif cara pemakaian selesai, seperti cerita atlet Arab saudi di link berita diatas.

Namun jika larangan didasarkan ideologi, kebencian kepada jilbab, seperti rezim orde baru dan kaum liberal itu yang patut dilawan. Kebencian melahirkan ketidak adilan, bagaimanapun kita berargumen tentang kewajiban jilbab bagi yang anti islam tidaklah mereka peduli.

Tinggal pilihan kita mensikapi suatu kasus yang menimpa pemakai jilbab, apakah anda masuk kategori membenci jilbab dengan berdalih sejuta argumen namun jauh dilubuk hati membenci jilbab/islan atau pencinta jilbab dengan mencari solusi? tanyakan nurani anda.

Kamis, 04 Oktober 2018

Mengakui Kesalahan


Salah satu terapi psikologis paling ampuh menghadapi problema hidup adalah mengakui kekeliruan, dalam prespektif agama mengakui kesalahan disebut bertaubat.
Ketika anda banyak kesalahan, mempunyai dosa yang bejibun Tuhan mengundang kita untuk mendekat padanya, melakukan konteplasi diri hingga ujungnya mengakui dosa dan mohon ampun padanya dan mohon maaf kepada sesama.

Mengakui kesalaham memang berat, apalagi bagi yang terbiasa berbohong, sekali tukang bohong berbohong, maka akan ditutupi dengan kebohongan baru pada ujungnya selama hidup terus berbohong.

Mereka yang mempunyai keberanian mengakui kesalahan, meminta maaf pada sesama dan bertaubat kepada Tuhannya, sesungguhnya telah menemukan cara melepas beban kehidupan yang menimpa.
Problematika hidup manusia modern adalah keterasingan di tengah keramaian, mereka hidup berjibaku saling bersaing bahkan saling menjatuhkan.

Seorang pakar Psikologi Prof Dr. Zakiah Darajat dalam bukunya Sholat menjadikan hidup bermakna menulis.
Terapis bagi mereka punya beban mental berat adalah mengungkapkan gunda gulana pada seseorang ahli terapis (psikolog) yang mampu mendengarkan keluh kesah mereka, melepas kepenatan dan bisa membuka solusi bagi kehidupan.

Namun kalau setiap problematika yang sulit terpecahkan harus konsultasi ke psikolog, berapa biaya yang harus di keluarkan?pastilah sangat mahal
Tuhan membuka kesempatan lima waktu sehari bagi mereka yang gundah gulana mengadu pada-Nya, meminta pertolongan padaNya dan meminta diberi Solusi sehingga ketenangan hidup didapat,

Menurut Prof Zakiah sholat adalah terapis psikologi paling ampuh dan berbiaya sangat murah.
Maka ketika sudah mengadu padanya, beban mental yang menghimpit bisa dilepas, ketenangan hidup itu muncul, pikiran menjadi tenang sehingga solusi bisa diurai.

Jadi mengakui kesalahan, meminta maaf pada sesama bukanlah sebuah aib, itu merupakan solusi yang diberikan Tuhan agar kita selalu ingat padanya dan senantiasa dibimbing oleh-Nya agar kita selamat menapaki kehidupan.

Kamis barokah, jangan lupa bahagia.

Rabu, 03 Oktober 2018

Di Bohongin Ratna

Akhirnya terungkap Ratna Sarumpaet berbohong, betapa menyakitkan dibohongin orang yang kita percaya, Seorang Prabowo, Sandi, Amien Rais dan semua pendukungnya merasa dapat pukulan telak di bohongin kawan seperjuangan.


Kejujuran dalam perjuangan itu penting, seorang pejuang tidak akan menggunakan kata-kata culas, perbuatan culas, sampai tindakan culas untuk meraih simpati.

Pastinya perilaku Ratna membuat geram banyak orang, termasuk saya, sungguh tercela dan memalukan tindakan Ratna, pastinya dia akan mendapat hukuman dalam bentuk dikucilkan kawan seperjuangan.
Untuk itu sangat terhormat kalau kita meminta maaf kepada pihak-pihak yang telah menjadi terduga terutama aparat polisi yang sudah terlanjur di jadikan kambing hitam, saya akan seperti nanik s diyang akan menghapus status yang memojokan aparat dalam kasus Ratna dan meminta maaf.

Tidak akan tercela mengakui sebuah kesalahan, tidak akan terhina seseorang mengakui kekeliruan, sebagaimana Tuhan menerima dengan terbuka hambanya yang mengakui kesalahan dalam bentuk tobat.

Pelajaran apa yang kita petik dari kasus Ratna? bahwa dalam satu barisan perjuangan walaupun tujuan mulia namun sangat dimungkinkan satu dua orang berbeda jalan dalam menggapai tujuan.
Seorang kawan bertanya gimana tuh dibohongin Ratna? jawab saya simple dalam hidup teramat biasa kita dibohongin kawan seiring yang sangat dipercaya, jadi jangan baper.

Lalu sikap kita selanjutnya apa? ya legowo menerima dengan lapang dada, sambil intropeksi diri, menata barisan yang sedikit terganggu akibat ulah seorang Ratna, justru dengan kasus Ratna berkurang satu orang yang bisa merusak perjuangan.

Tapi bukan berarti perjuangan berhenti, teruslah berjuang dengan tetap dalam satu barisan, selama belum injuri time, perjuangan tetap tidak boleh berhenti. Untuk selanjutnya berhati-hati dalam mengunyah sebuah berita.

Soal Ratna Bohong gimana! Awalnya geram lalu? Ah biarkan saja toh, kita tidak tahu awalnya kita dibohongin, kita berpasangka baik pada Ratna, toh bukan cuma dia yang tukang bohong, banyak kok yang jadi tukang bohong namun dibungkus dengan kemasan bagus pada akhirnya nanti kebohongan itu akan terungkap.

Jadi apakah kita terus berhenti mengkritisi sesuatu hanya karena kasus Ratna? Oh tentu tidak, tetaplah kritis, dengan kekritisanmu itu akan membuat ada cek and balance dalam kehidupan, justru ketika daya kritis mati kezaliman bisa merajalela.

Kebohongan Ratna pukulan telak tuh! pastinya iya, tapi bukan pukulan mematikan yang bikin KO, pertandingan masih panjang, baru babak penyisihan, tinggal buang Ratna, barisan bisa berjalan lagi.
Saya akan terus berjuang dengan meyakini apa yang saya perjuangkan benar, kebohongan Ratna hanya kerikil kecil dalam perjuangan, tetap semangat.

Selasa, 02 Oktober 2018

Sudut Pandang

Sudut pandang setiap kita dalam melihat sebuah peristiwa itu berbeda-beda, tergantung kepada pengalaman, wawasan, pengetahuan sampai kepada keberpihakan kita pada persoalan atau peristiwa yang sedang trend.

Musibah gempa bumi dan Tsunami bagi kalangan geologis yang berpuluh tahun mendalami ilmu tentang kegempaan, peristiwa ini dipandang dari sudut snice sebagai peristiwa alam yang sudah bisa di dideteksi dan diantisipasi untuk meminimalkan korban.

Sementara dari sudut agamawan berbeda lagi, bisa jadi dia memandang peristiwa itu sebagai musibah, ujian bahkan hukuman karena kita banyak berbuat dosa.

Apapun sudut pandang kita, itu merupakan warna-warni kehidupan yang saling sinergi, ilmuwan memberi pengetahuan agar kita senantiasa waspada akan bencana.

Agamawan memberikan terapi tentang bagaimana kita menghadapi suatu musibah, dengan senantiasa meningkatkan keimanan, kesabaran dan juga kekuatan dalam menghadapi musibah.

Bagi relawan musibah adalah ladang amal untuk membantu saudara-saudara kita yang tertimpa musibah.

Bagi pemerintah itu kewajiban menyelesaikan dampak musibah mulai dari tanggap darurat hingga memulihkan kembali daerah bencana menjadi kembali ke keadaan semula.

Lalu tugas kita apa? lagi-lagi tergantung sudut pandang anda, kalau kita di persatukan dalam persaudaraan, musibah saudara kita di lombok dan palu, adalah musibah kita juga.

Seyogyanya kita membantu minimal dengan doa, naksimal bisa kita menggalang dana bersama, membantu memberikan peralatan dasar sampai membantu memulihkan kondisi mereka disana.

Saatnya berbuat, bukan nyinyir dan saling menghujat dan menyalahkan, sudah 1.000 orang meninggal disana, haruskah kita berdiam diri? yuk bergerak mendonasikan rejeki kita lewat komunitas, lembaga sosial, lembaga dakwah dan para relawan yg berjibaku disana.