Arsip Blog

Rabu, 09 November 2016

Setiap Kita Adalah Juara


Beberapa hari lalu saya bersama pengurus TDA Bekasi meting dengan Rumah Zakat, sebuah lembaga pengelolah zakat, infaq, shadaqoh dan wakaf profesional, dalam rangka penjajakan kerjasama membantu pemberdayaan ummat

Salah satu program menarik dari Rumah Zakat adalah beasiswa sekolah juara. Mereka menawarkan kepada para donatur untuk memberi beasiswa selama satu tahun yang besarannya di tentukan berdasarkan tingkatannya, ada beasiswa sd, smp,sma/smk, para donatur akan di beri laporan setiap tahun, dan di kasih progres report anak yg diberi beasiswa oleh donatur.

Sekolah juara adalah sebuah konsep pendidikan yang lebih mengedepankan penghargaan kemampuan siswa dalam bidang tertentu yang bisa di capai siswa ketimbang angka-angka nilai pelajaran di rapot. Mereka menggambarkan setiap anak punya potensi, jika potensi itu dipupuk dan diarahkan dengan benar mereka adalah para juara di bidangnya masing-masing.

Mereka yang pandai di bidang menghapal, lalu hapal quran beberapa jus maka dia adalah juara hapalan quran, yang punya minat olahraga seperti karate, lalu berlatih sungguh-sungguh hingga naik tingkat dia adalah juara karate, bahkan mereka yang punya kemampuan dianggap sepele seperti rajin membantu membersihkan dan mencuci piring maka dia juara di bidang kebersihan.

Kerjasamma RZ Bekasi Dengan TDA Bekasi
Konsep juara di kembangkan mengingat mereka yang mendapat beasiswa adalah para duafa dan yatim, dimana tingkat kepercayaan diri mereka kurang akibat kemiskinan dan tidak punya orang tua, mereka menjadi minder, kurang inisiatif dan kreatif sehingga perlu pendampingan kuat untuk menumbuhkan sikap percaya diri yang utuh.

Cara menumbuhkan itu sederhana memberikan reward gelar juara pada setiap pencapaian hasil sikap hidup, mulai dari kebersihan diri sampai pada pencapaian nilai-nilai ruhani seperti rajin sholat berjamaah.

Konsep sekolah juara ini sangat bagus, merupakan anti tesa dari sistem pendidikan kita selama ini, dimana siswa di ukur keberhasilannya dari angka-angka yang di capai lewat rapot,lalu nilai rapot itu di jumlah yang paling tinggi di kasih label juara, tidak ada upaya memberi reward pada pencapaian bidang lain seperti sikap diri, kemampuan berbagi dan juga kemampuan mengelola hal-hal yang di anggap remeh seperti menjaga kebersihan.

Setiap kita adalah juara, itu adalah konsep yg kerap diajarkan para motivator, kita adalah satu-satunya sel sperma, dari 350 juta sel sperma yang dipancarkan ayah kita, berlari secepat kilat bertemu dengan sel telur ibu, terjadilah pembuahan yang menjagi cikal bakal terciptanya kita.


Kerjasama TDA dan RZ Pusat
Karena setiap kita adalah juara, maka kita berhak menciptakan prestasi juara untuk diri kita sendiri, dalam presfektif bisnis setiap kita bisa menjadi juara bisnis tanpa perlu meniru pihak lain, boleh saja kita menyerap ilmu dari para tutor, mentor, motivar bisnis dan pengusaha sukses, tapi pada akhirnya kita bisa menciptakan sejarah bisnis kita sendiri.

Belajar dari sekolah juara, kita bisa merubah paradigma berpikir para pebisnis, bahwa ukuran kesuksesan bisnis tidak hanya diukur dari asset dan penghasilan melimpah, namun bisa ditambah dengan nilai-nilai lain yang jauh lebih besar seperti kebebasan, semangat berbagi, kemampuan bersosialisasi dan nilai-nilai spritual

Kebebasan adalah sikap utama pebisnis, mereka bebas mengutaran konsep, ide dan mengaplikasikannya dalam praktek bisnis sehari hari, pada ujungnya jika berhasil bisa tercipta kebebasan finansial.

kebebasan ini menjadikan pebisnis tidak bergantung pada pihak lain, independen dalam bersikap dan bertindak sehingga pebisnis diharapkan bukan hanya sekedar pencari harta namun pelopor dalam melakukan perubahan di masyarakat.

Dalam prespektif modern pebisnis itu adalah masyarakat kelas menengah, mereka cerdas dan punya daya kritis, terhadap lingkungan dan juga penguasa. Apabila dirasa ada penyimpangan di tingkat masyarakat dan penguasa, pebisnis sejati bisa berubah menjadi aktivis untuk mengkoreksi penyimpangan itu, mengingat pebisnis itu jauh lebih independen ketimbang kaum politisi dan aktivis yang secara ekonomi bergantung pada pihak lain, koreksi dari para bebisnis jauh lebih netral, independen dan berbobot.

Kita bisa mengacu pada sejarah pebisnis zaman nabi muhammad saw, abubakar, usman, abdurahman bin auf, siti khadijah istri rasulullah, mereka pebisnis sejati pandai mengembangkan asset namun peduli pada perjuangan menegakan islam, mereka akan rela mengorbankan hartanya ketika ummat membutuhkan. Abubakar adalah contoh pebisnis lembut hati namun tegas, ketika diberi amanah ummat menjadi khalifah, ada sebagian masyarakat yang mencoba makar dengan tidak mau membayar zakat setelah nabi wafat, abubakar dengan tegas menindak pelaku makar islam.

Jadi ketika anda sudah jadi pebisnis ,beragama islam, kitab anda di nista, anda tidak tergerak membantu malah asyik traveling, lebih parah lagi nyinyir pada perjuangan sesama ummat ya ukur sendiri kehebatan bisnis anda dalam pandangan umat muslim. Sikap yang paling apik ketika anda tidak setuju adalah diam.

Berbahagialah saya tatkala aksi damai umat islam kemarin, teman2 saya para pebisnis bahu membahu membantu saudara seiman yang ikut aksi damai dalam bentuk yang paling mereka mampu materi, hebatnya banyak diantara mereka terpanggil ikut terjun langsung, hadir diantara jutaan ummat yang menyuarakan tuntutan hukum penista quran, allahu akbar saksikan ya allah hambamu yang sukses bisnis, tidak melupakan mu tatkala ayat-ayat mu di nista.

Semangat berbagi adalah sisi lain untuk menebar manfaat menjadi pebisnis, bahwa keberhasilan yang didapat tidak ada manfaatnya kalau dimakan sendiri,anda wajib berbagi, tidak akan masuk sorga jika anda para pebisnis asyik nongkrong di cape dengan dalih loby bisnis, namum tetangga anda kelaparan.

Semangat berbagi bukan hanya pada materi, bisa juga dalam bentuk transfer pengalaman dan ilmu, paling penting saya kira adalah semangat berbagi kepada karyawan yang telah membesarkan bisnis anda, dengan memberikan hak sesuai dengan aturan sangat bijak memberi lebih dari aturan.

Kemampuan bersosialisasi juga penting agar pebisnis tidak berumah di atas angin, bersosialisasi mengajarkan kita untuk lebih kenal kenal denyut masyarakat sehingga kita menjadi lebih peka dan peduli.

Akhirnya juara bisnis tidak bisa diukur dari banyaknya asset tapi sukses bisnis adalah ketika bisnis kita mampu membawa manfaat untuk banyak orang, kejarlah asset sampai dunia ini runtuh, namun berbagilah kebahagian saat ini juga sebelum dunia ini runtuh.

Bagian penutup dari tulisan saya ini nilai2 spiritual dalam bisnis itu penting, saya salut ada teman2 bisnis yang mulai menerapkan pada hal mendasar seperti mewajibkan sholat berjamaah, mengadakan kajian islam bersama pimpinan dan karyawan dll, kesaksian yang saya denger dari mereka yang sudah mempraktekan nilai spiritual adalah bisnis menjadi tenang, silaturahmi dengan karyawan bagus, kinerja bisnis makin berdenyut, Jadi kesimpulan tulisan saya ini adalah bisnis dan nilai2 spiritual itu menyatu

Senin, 07 November 2016

Massa diam


Saya terkejut ketika salah seorang anggota komunitas bisnis mengunggah photo ikut aksi damai hari ini di grup wa, padahal persepsi saya selama ini mereka nampaknya tidak peduli dengan urusan politik apalagi mikirin ahok, di grup itu pula ada "aturan dan penjaga yang bukan pengurus" yang selalu keras kalau sudah nulis urusan yang katanya politik.

Menjadi menarik mengapa kawan saya itu berani menabrak aturan grup? Bahkan ada yang secara terang-terangan nulis di status fb pribadinya ikut aksi damai. Seorang istri teman saya juga dengan haru menulis hari ini menyiapkan bekal untuk suami tercinta yang akan ikut aksi damai.

Persepsi saya teman-teman dikomunitas bisnis seakan a politik, mereka tidak tertarik dengan hingar bingar politik, mereka asyik dengan dunianya yang sudah mapan, mereka pastinya lebih suka makan bersama di restoran, nongkrong di cafe, traveling, ketimbang turun ke jalan, walaupun dulunya diantara mereka ada yang tukang demo.

Namun dalam kasus ahok mereka kok tiba-tiba berubah? Jawabnya menurut pemahaman saya bukan berubah, tapi apa yang di ucapkan ahok itulah yang merubah pandangan mereka terhadap ahok.Penggusuran, kata-kata kasar, umpatan dan gaya perpolitik ahok, mereka pasti mengikuti namun itu tidak sampai mengusik mereka, walaupun saya yakin nurani mereka terusik dan gregetan melihat tingkah polah ahok namun itu belum mampu menggerakan mereka itu action, karena mereka cerdas memahami peta perpolitikan di negeri ini.

Namun ketika ahok mengucapkan kata yang menista keyakinan paling dasar, nurani nya memberontak, ini tidak bisa di biarkan, harus ada teguran keras, jadilah mereka turun ke jalan hari ini.
Massa diam itulah julukan pas buat mereka,massa dia ini jumlahnya besar dan selama ini mereka diam dan hanya bisa mengutuk dalam hati tingkah dan polah ahok, tadi pagi pun saat saya naik gojek dan bilang mau ikut aksi damai, tukang gojek langsung doain dan bilang itu orang mulutnya memang kudu di jaga kalau perlu di sumpel.

Hari ini massa diam itu sudah habis kesabarannya, mereka tidak lagi diam melihat keyakinannya di nista, massa diam itu muncul dari berbagai profesi dan saya pun tidak bisa diam selamanya, hari ini saya bersama ratusan ribu massa diam dari seluruh indonesia menyuarakan isi hati dengan damai.

Bahwa sudah saatnya pemimpin negeri ini jangan pernah mengusik keyakinan rakyatnya, harus jaga
sikap, jangan sembarang membuat ucapan atau umpatan, bahwa setiap pemimpin boleh tegas tapi tidak menista, boleh marah tapi jangan mencerca, boleh tegas tapi jangan arogan.

Mudah-mudahan ini menjadi pembelajaran buat para pemimpin dan calon pemimpin negeri ini, jangan meniru ahok, hargai rakyat dan paling utama hargai keyakinan terbesar rakyat negeri ini islam.

Setelah aksi damai ini lalu ahok di proses hukum sesuai dengan apa yang dia katakan, lalu dinproses dinpengadilan, massa diam itu yakin akan diam lagi, larut dalam kehidupan sehari-hari.

Istqlal
Ditengah ratusan ribu ummat
Menyuarakan aksi damai
Wassalam

Tulisan ini dimuat di harian Radar Bekasi
Tanggal 5 November 2016

Standar ganda demokrasi


Salah satu inti ajaran demokrasi adalah kebebasan mengeluarkan pendapat baik melalui lisan ataupun tulisan, bentuknya bisa berupa membuat tulisan, opini, berita dan juga aksi damaiDalam alam demokrasi aksi damai adalah hal biasa, bahkan terlalu biasa, sama biasanya kita makan sambal, ada yang tidak suka, banyak juga yang suka, jadi tidaklah terlalu istimewa kalau ada kelompok masyarakat tidak puas terhadap suatu kebijakan pemerintah melakukan aksi turun ke jalan, itu sah, konstitusional dan di lindungi undang-undang.

Di alam reformasi ini teramat sering kita melihat aksi turun ke jalan, mulai dari mahasiswa, buruh, dan kelompok masyarakat lain, biasanya berakhir dengan damai, kalaupun ada pernak-pernik rusuh, itu bisa dilokalisir, sikap masyarakat pun sudah biasa dan tidak terlalu alergi terhadap unjuk rasa.

Sikap masyarakat yang sudah dewasa ini berbanding terbalik dengan sikap para tokoh yg sering mengaku pejuang demokrasi dan tokoh pluralisme mereka begitu toleran jika kelompoknya atau kelompok lain berunjuk rasa namun ketika umat islam ingin menyalurkan hak konstitusionalnya melalui aksi damai para "tokoh" ini langsung paranoid.

Belum juga ge di laksanakan, mereka sudah membangun opini di media yang se ide, dengan memberi stigma negatif, maka muncullah berita menyeramkan dari kutipan mulut mereka di medua seakan negeri ini akan runtuh ; demo bisa anarkis, ini ulah kaum radikal, bisa ditunggangin isis, tragedi 98 bisa terulang dan judul judul lain yang menyeramkan.

Untuk memperkuat opini, mereka membuat panggung diskusi dan seminar seolah-olah ilmiah menghadirkan pakar tukang - yang rela dibayar murah sama murahnya dengan peserta aksi bayaran- membedah dan menganalisa dampak aksi damai hebatnya mereka kompak bahwa aksi damai umat islam jika terjadi akan ricuh dan anarkis, karenanya patut di cegah.

Disini mereka kehilangan nalar, kebebasan berpendapat yang mereka agungkan, menjadi hilang
makna kala umat islam yang melakukan, seakan umat islam itu tidak layak berdemokrasi dengan cara aksi damai karena pasti berakhir ricuh, hanya kelompok nyalah yang bisa berlaku beradab ketika berunjuk rasa.
Nah ketika aksi damai umat islam jilid satu berlangsung damai, dengan dihadiri ribuan orang media mereka bukannya meliput kedamaian yang mereka tuntut, mereka mencari kesalahan dengan mengatakan banyak taman yang rusak di injak, sampah berserakan dan jumlah peserta aksi yang di kecilkan dari puluhan ribu menjadi ratusan saja

Standar ganda demokrasi sudah sering mereka terapkan terhadap umat islam, jika mereka melakukan aksi unjuk rasa, media mereka fokus pada inti tuntutan, seakan tuntutan mereka sangat benar dan patut di dukung semua komponen bangsa, tidak pernah mereka fokus pada pernak pernik demo, taman rusak, sampah berserakan, lucunya demo kelompok mereka sangat sedikit pesertanya, namun tuntutan mereka seakan semua anak bangsa di negeri ini di klaim menyetujui aksinya.

Pada aksi damai jilid dua pun sikap mereka sama, bukannya fokus pada tuntutan ummat islam, aksi anarkislah yang mereka liput, mereka besar2 kan, kutipan pejabat dijadikan headline, tuntutan umat diabaikan, jadilah headline berita utama mereka seragam.

Satu hal lagi bentuk kemunafikan mereka, apabila salah satu media mereka tercolek aparat atau masyarakat, akibat pemberitaan bias seperti kasus pengusiran wartawan tv di salah satu aksi damai, mereka kompak berteriak ada upaya membungkam kebebasan pers,lengkap dengan sejuta argumen pembenaran, dewan pers lansung bersuara, namun sewaktu 6 portal islam di blokir pemerintah dengan alasan menyuarakan radikalisme tanpa melalui putusan pengadilan mereka sariawan, mereka membiarkan, tidak ada pembelaan dari kalangan mereka, dewan pers pun ikut sariawan, lucunya salah satu yang di blokir itu ada portal darut tauhid milik aa gym, sejak kapan aa gym jadi orang radikal? Hallo ente mati rasa ya?

Mengapa standar ganda mereka selalu terapkan? Banyak faktor, salah satu yang paling menonjol adalah keinginan mereka untuk menghegomoni pemahaman demokrasi sesuai dengan yang mereka inginkan, pada ujungnya mereka dapat meraih kekuasaan dan menikmati secuil jabatan, posisi sekelas komisaris cukuplah membungkam mereka.

Demokrasi dalam pemahaman mereka cenderung liberal dan sangat alergi pada agama terutama islam, mereka begitu permisif pada nilai-nilai liberal ala barat, soal gay dan lesbian misalnya mereka membolehkan itu bagian dari hak asasi manusia, begitu juga dengan pelacuran, bagi mereka pelacuran adalah sebuah profesi biasa yang tidak perlu di berantas, buat mereka kampanye dampak aids adalah memberi kondom bukan menghilangkan pelacuran.

Mereka sangat anti dengan sikap keberagamaan yang formalistik mengacu pada praktek keberagaman yang utuh misalnya soal jilbab, mereka menganggap itu budaya arab bukan budaya islam, tidaklah wajib, perda berbau syariah langsung di tolak.

Jadi sudah ada benih- benih kebencian terhadap islam di dalam alam bawah sadar mereka, makanya mereka begitu membenci ulama yg berada di mui, karena kerapkali mui itu mengeluarkan fatwa yang sangat merugikan gerakan mereka. Fatwa tentang aliran sesat misalnya itu benar2 membuat mereka pening karena fatwa itu membuat umat punya pedoman mana ajaran yang benar dan menyimpang, buat mereka semua ajaran benar dan harus benar tidak ada yang salah.

Mereka sering teriak sok moralis, cinta damai dan anti kekerasan, namun dalam status mereka di sosmed, sangatlah bertolak belakang, kata2 isi toilet yang banyak digunakan ahok, sering mereka pakai, kalimat provokatif menjadi hal biasa, kekerasan verbal dengan begitu mudah mereka tulis, memberi label dengan sebutan kurang pantas pada lawannya seakan menjadi kebiasaan, memutar balikan fakta juga bisa.

Sayangnya dikalangan islam banyak yang terpengaruh cara berpikir mereka, ada yang menjadi pengikut setia kaum liberal, jadilah mereka sok liberal dari kaum liberal, sering nyinyir dan meremehkan gerakan islam, memandang remeh ulama dan ikut menghujat mereka yang ikut aksi damai.

Aksi bela islam yang mampu mengumpulkan massa ratusan ribu ummat, di gerakan dengan swadaya, di mobilisasi dengan sangat apik dan dibiayai secara swadaya merupakan sebuah prestasi besar gerakan massa di negeri ini, bisa jadi ini membuat membuat mereka tercengan dan iri hati, tidak pernah ada dalam sejarah modern negeri ini, ada massa demikian besar dikumpulkan, menyuarakan tuntutan yang sama, bahkan seorang Deny JA salah satu gembong liberal tidak bisa menyembubyikan rasa kagum terhadap gerakan massa aksi bela islam.

Berdampakah aksi bela islam? Sangat berdampak, pemerintah seperti kelimpungan, presiden sampai sowan ke Prabowo dan mengundang ulama ke istana untuk meredam umat, aparat sibuk dengan antisipasi dengan show of porce laksana perang, para pimpinan partai pendukung ahok membisu tak sanggup coment, pada akhirnya tekanan itu memaksa penerintah mempercepat proses hukum.

Pertarungan panjang antara kaum liberal dan islam dalam menafsirkan demokrasi akan terus berlangsung, sampai pada ujungnya bisa saja mencapai titik temu, namun buat yang pro liberal patut dicatat keunggulan mereka yang mampu menguasai media massa dan televisi sehingga bisa menciptakan opini dan mempengaruhi kebijakan negara, tidaklah berlangsung lama.

Media arus utama sudah mendekati alam kubur, seperti bangkrutnya taxi konvensional dengan berganti mode tranpotasi online uber, grab, gojek, masyarakat sudah mulai cerdas untuk tidak menelan mentah2 informasi yang di buat media utama yang seringkali isinya bias, media sosial sudah banyak menggantikan peran sumber informasi baru yang lebih akurat.

Mobilisasi gerakan pun senyap, lewat grup Wa, tele, path mereka bisa berkomunikasi dan saling bertukat informasi, counter isu sangat gampang dalam waktu sekian menit berita arus utama yang kategori sampah sudah bisa di netralisir.
Pasnabung cyber juga tidak efektif, sangat mudah terbaca dan akan bubar kalau sumber gizinya habis, satu lagi yang mereka lupa di balik gerakan islam ada satu ideologi kuat mengikat mereka dari yang maha tinggi yaitu Allah SWT.

Ahok yang demikian di puja dan digdaya bisa membuat legislatif, kpk, bpk kocar kacir, namun hanya oleh sepotong video dia menjadi paria penista islam, kuasa Allah turun, Tuhan Yang Maha Agung mengabulkan doa mereka yang teraniaya akibat mulut comel dan kebijakan ahok menggusur mereka dengan sadis, doa kaum teraniaya langsung di ijabah.

sulit buat presiden untuk melindungi ahok, walau mereka bisa saja merekayasa proses hukum yang menguntungkan ahok, namun cap penista islam tidak akan lenyap dari memori ummat yang sudah terlanjur marah, kalaupun ahok lolos dari proses hukum dia tidak akan bisa tidur tenang seperti salman rusdie yang menghilang seumur hidup di inggris sana, sementara ahok hidup ditengah ratusan juta umat islam, bisa jadi tiap malam dia mengalami mimpi buruk, bohong sekali kalau ahok sok kuat, di tekan satu orang saja kita sudah pening, apalagi di tekan ratusan ribu orang pasti mumetlah.

Selasa, 01 November 2016

Publikasi Sedekah di Medsos Riya?




Sejak ada media sosial, kegiatan sedekah menjadi berbeda, banyak para penggiat sedekah mengajak donasi, mengumpulkan dana dan melaporkan kegiatannya dengan cara posting   lewat status maupun photo-photo kegiatannya di dunia maya.


Kegiatan sedekah pun menjadi lebih berwarna, kalau dulu sedekah itu di kordinir di tingkat wilayah, dengan organisasi formal seperti, RT,RW, masjid, yasasan sebagai pelaksananya,  penggiatnya datang ke rumah-rumah dengan mengajukan list atau menunggu di tempat, daya jangkaunya sempit, laporan kegiatannya cukup terbatas di umumkan di dinding masjid atau kantor RW.


Kini kegiatan sedekah  banyak berbasis komunitas,  lintas wilayah, etnis,  juga agama, pola  publikasi dan pengumpulan dana juga berbeda,banyak yang di infokan di grup wa, tele, line atau medsos, bisa berbentuk gambar atau kata, yang minat bantu bisa langsung transfer ke rekening bank, praktis dan ekonomis. Daya jangkaunya luas, publikasi cepat dan gampang, cukup di muat di status medos.informasi menyebar.


Ada kegiatan sedekah  insidentil ada juga rutin, yang insidentil misalnya santunan ramadhan, bantuan bencana, bisa juga bantuan untuk teman komunitas yang tertimpa musibah. Sedangkan yang rutin misalnya ada ibu-ibu komunitas tertentu setiap jumat mengadakan sedekah nasi ke masjid2, panti asuhan dan rumah sakit, mereka secara rutin membagi nasi bungkus setiap hari tertentu (biasanya hari jumat) kepada masyarakat umum, dananya ririungan dari teman2 komunitas atau pihak luar, jumlah nasi yang mereka sebar tergantung dana yang masuk setiap minggu.


Komunitas sangat berbeda dengan organisasi formal, organisasi formal berbasis dunia nyata punya anggota tercatat jelas, struktur organisasi ketat dan juga punya aturan organisasi seperti ad/art. Komunitas lebih longgar, mereka terbentuk bisa berdasarkan hobi, kerjaan, bisnis, tidak ada ad/art, struktur oeganisasi juga simple.
Saat ini komunitas banyak terbentuk karena aktivitas di dunia maya, mereka saling berinteraksi dan kenalan lewat grup-grup bbm, wa, tele dan fb. Banyak diantara mereka sebelumnya tidak saling kenal dan  tidak saling bertemu secara fisik, sesekali bisa ketemu fisik saat acara tertentu seperti kopi darat atau seminar, suasana pergaulannya sangat cair.


Nah menjadi pertanyaan,  Publikasi kegiatan sedekah termsuk riya kah? Segala sesuata kata Nabi bergantung pada niatnya, kalau niat publis untuk mengajak orang ikut membantu atau melaporkan kegiatan kepada donatur, itu sangat bagus, fastabikul khairot  mengajak orang berlomba-lomba dalam kebaikan dan juga untuk pertanggung jawaban pada donatur bahwa dana yang di sumbangkan telah disalurkan kepada yang berhak menerimanya.


Lantas kalau niatnya untuk pamer gimana? Itu yang salah, riya bisa menghilangkan pahala amal kita, tapi riya itu kan soal hati susah ditebak, kita tidak bisa menuduh orang berbuat baik dengan dengan mempublish di medsos dengan cap cap yang salah. Sikap terbaik kita terhadap kegiatan sedekah di medsos, seharusnya positif thingking, dukung dan support mereka yang mendedikasikan diri menjalankan kegiatan sedekah, bantu dengan materi jika ada limpahan rejeki, doakan para pejuang sedekah untuk istiqomah  menjalankan tugasnya.


Jangan nyinyir, coment atau mencemooh, apalagi memberi cap mereka riya- istigfar astagfirulloh hal adzim - sudah tidak membantu, memberi tuduhan mereka yang berbuat baik dengan cap yang tidak pantas, bercerminlah apakah kita punya kemauan dan kekuatan melakukan kegiatan seperti yang di lakukan para pejuang sedekah.


Bayangkan mereka meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk mengerjakan sesuatu yang secara materi tidak menguntungkan, mereka rela memasak nasi lengkap dengan lauknya, membungkus dan mengantarkan kepada yang berhak menerimanya, mereka adalah para malaikat duafa yang di tunggu orang pinggiran yang hanya untuk membeli sebungkus nasi saja tidak mampu. Lalu setelah mereka melakukan itu, kita dengan pongahnya bilang ah mereka itu riya, sekali lagi istigfar mohon ampun pada allah, mudah-mudahan orang nyinyir ini di beri hidayah.


Saya mengenal beberapa pejuang sedekah nasi, mereka sebagian besar emak2 mandiri,  punya bisnis ada juga  pekerja mapan, kalau pengen hidup enak dan tidak peduli pada sesama mereka bisa, tapi mereka manusia yang "menyimpang", mereka mempelopori sedekah, action nyata dan mengajak kawan2nya untuk ikut peduli, jadilah mereka pejuang sedekah hebat,mungkin nilainya kecil tapi semangat berbaginya harus kita apresiasi.


Bukan hanya itu mereka cepat tanggap saat bencana, sewaktu kabut asap melanda negeri ini, mereka mempelopori sedekah oksigen, mereka mengajak masyarakat membantu oksigem dalam bentuk kaleng untuk menjaga kesehatan masyarakat yang terkepung asap.


Disaat yang lain menyalahkan pemerintah, mereka action mengumpulkan sesuatu yang layak di berikan kepada saudara-saudara kita nun jauh disana. Para pejuang sedekah ini banyak kolaborasi dengan komunitas2 lain, saat bencana garut melanda beberapa waktu lalu,  lintas komunitas bahu membahu mengumpulkan sedekah, sangat efektif karena dilakukan secara spontan, dana besar bisa didapat dan disalurkan.


Sedekah lewat medsos adalah bentuk kreatif masyarakat  memanfaat kan media sosial untuk hal positif, media sosial kalau tidak disikapi secara bijak banyak sisi mudhorotnya, bercanda, gosip, curhat, bahkan saling serang sering terjadi, ketimbang sibuk ngegosip lebih baik sedekah.


Salam hormat saya untuk para pejuang sedekah, terus lah membantu, jangan pernah putus asa, abaikan suara-suara miring, karena mereka yang bersuara miring itu hati dan pikirannya juga miring, mereka duafa empati,  suatu saat, mereka patut di sedekahkan empati biar hatinya terbuka.


)* Note Tulisan ini terinspirasi dari sebuah status seorang pejuang edekah



Kamis, 20 Oktober 2016

Perijinan Usaha Dan Pungli


Presiden jokowi lagi gencar melawan pungli Kata Bapak Jokowi"sepuluh ribu rupiah pun pungli yang di pungut akan kita sikat". Sesuatu banget Mr Presiden, kita dukung 1000%.

Pungli memang penyakit akut yang tidak pernah hilang di negeri ini, sudah menjadi rahasia umum pelayanan publik di negeri kita sangat buruk, mental aparat  masih berpikir sebagai tuan bukan pelayan, tugas yang harusnya diemban dijadikan ladang  penghasilan tambahan,  kalau ingin melayani ada tarif yang harus dibayar, inilah yang disebut pungli, maka muncullah anekdot-anekdot lucu tentang aparat,

"kalau bisa dipersulit kenapa musti di permudah? Sebab kalau dipersulit ada duit".

"Kalau anda kehilangan kambing, terus lapor ke aparat maka hasilnya anda kehilangan sapi  Ha..ha..ha.."

Menghilangkan pungli diawali dengan perbaikan mental aparat, mereka yang bobrok, perlu diberi shock terapi, upaya polisi  melakukan OTT patut di acungin jempol, setelah di OTT proses hukum, kalau terbukti bersalah jemblosin ke penjara dan pecat dari PNS.

 Kedatangan presiden ke tkp pungli di Kementrian Perhubungan  harus di dukung, itu sebagai bukti nyata presiden menjadi garda utama pemberantasan pungli, kalau perlu presiden blusukan ke pelosok-pelosok daerah  yang aparatnya terkena ott kepolisian, agar aparat di daerah yang masih main-main dengan pungli kapok.

Perijinan usaha di negeri ini juga tidak lepas dari pungli, dari skala kecil sampai skala besar,
 seperti pembuatan SKDU sudah di pasang tarif antara 300 ribu-500 ribu, bahkan kawan saya di tanggerang kena palak 800 ribu, mental aparat yang sudah bombrok, bukannya membantu mempermudah para pengusaha menciptakan lapangan kerja dan menggerakan ekonomi nasional, justru di mata aparat nakal pengusaha itu banyak duit dan layak untuk di peras.

Setidaknya ada  puluhan perijinan yang harus dimiliki pebisnis seperti SKDU, SIUP,TDP, Ijin Industri, Ijin Ganguan, IMB, Pirt, MD dll. Kalau setiap perijinan dikenakan tarif, maka baru memulai usaha pengusaha harus keluar uang puluhan juta, akibatnya timbul ekonomi biaya tinggi, tidak efesien,  harga jual mahal dan sulit berkompetisi.

Bukan hanya soal biaya palak yang jadi persoalan, waktu pembuatan ijin pun terkadang sulit di tebak, SKDU misalnya, yang tanda tangan lurah dan camat, terkadang lurah dan camat tidak ada di tempat, seringkali lurah dan camat di undang atasannya untuk kegiatan yang kurang penting, semisal menghadiri kegiatan peresmian, jadilah waktu bikin skdu lama, menunggu lurah dan camat hadir, untuk itu sebaiknya lurah dan camat fokus melayani masyarakat di garda depan.

Pelayanan di tingkat kota dan kabupaten kini telah terangkum dalam satu wadah kantor bersama yaitu Badan Pelayanan dan Perijinan Terpadu (BPPT), namun walaupun sudah satu atap waktunya masih lama, hanya untuk memperpanjang SIUP dan TDP di Kota Bekasi butuh waktu tiga minggu.Nah ini baru di tingkat lokal, bagaimana di tongkat pusat? Pasti lebih lama dan ruwet

Pelayanan yang kurang ramah, waktu penyelesaian yang tidak pasti di tambah suasana ruang pelayanan yang apek dan tidak rapih, membuat orang males mengurus ijin sendiri, maka inilah peluang dan kesempatan aparat bombrok untuk ambil untung. Semakin rusak suasana pelayanan maka semakin besar aparat bobrok ngambil untung.

Jadi selain shock terapi, pemerintah harus memperbaiki dulu ruang pelayanan yang ramah, contohlah pelayanan bank, begitu buka pintu kita sudah disapa satpam yang ramah, sambil memberi ucapan "selamat pagi pak/bu, ada yang bisa saya bantu?" Ketika kita mengucapkan perlu sesuatu seketika satpam menjelelaskan dan mengarahkan kita ke petugas bank yang akan melayani kita.
Di ruang tunggu tempat duduknya apik, wangi, ber ac, ada televisi, koran, membuat kita betah menunggu.

Komputerisasi sebuah keharusan, harus dibuat program komputer yang up to date, cepat dan efisien untuk memproses perijinan, bukan sekedar mengganti mesin tik dengan komputer cara kerja masih manual.

Cobalah dateng ke kantor-kantor pemerintah, tidak ada satpam, petugasnya ogah-ogahan, ruang tunggunya tidak standar, tidak ber ac terkadang baunya apek he..he..he...

Hal ketiga yang harus di perhatikan pemerintah adalah memperbaiki regulasi dan

menperpendek birokrasi, misalkan lagi-lagi soal SKDU, saya concent ke SKDU karena kebetulan saya Ketua UMKM Kota Bekasi, SKDU adalah  ijin pertama yang harus di miliki pelaku usaha pemula skala UMKM dan paling banyak dikeluhkan proses membuatnya, dengan kutipan biaya tidak jelas.

Pertanyaan saya kenapa SKDU masa berlakunya satu tahun? Sedangkan perijinan lain
seperti SIUP, TDP rata-rata 5 tahun. Sesuai dengan namanya Surat Keterangan Domisili Usaha, sebuah surat yang menunjukan usaha kita di suatu daerah, yang namanya usaha pastinya tidak akan berpindah-pindah dalam jangka panjang, nah masa berlaku satu tahun itu teramat pendek, setiap tahun ijin harus diperbaharui ribet bangat, ini bisa menjadi  ladang pemerasan aparat, idealnya skdu sama masa berlakunya seperti yang lain lima tahun.

SKDU membuatnya di kelurahan, sebaiknya cukup ditandatangani lurah saja, camat tidak perlu, camat untuk mendapatkan data pengusaha cukup minta tembusan dari kelurahan. Sekarang ini camat ikut tanda tangan, cuma memperpanjang birokrasi saja, untuk apa?

Di kantor pelayanan sebaiknya dipajang papan pengumuman  tata cara pembuatan ijin, biaya, dan persyaratan formalnya, sehingga masyarakat yang mengajukan ijin mengerti dan tahu biaya yang sebenarnya sehingga terhindar kutipan yang tidak jelas.

Pelayanan satu atap dalam wadah BPPT itu bagus, efisien dan praktis, masyarakat tidak perlu berpindah-pindah kantor untuk menyelesaikan perijinan, di kantor BPPT Kota Bekasi pelayanan perijinan sudah lumayan baik, saya sendiri mengalaminya, ada nomor antrian ala bank, tempatnya nyaman, pelayanan ramah. waktu penyelesaian pun pasti, saya memperpanjang siup dan tdp, tiga minggu tepat waktu.

Untuk siup dan tdp kecil, jelas-jelas tercantum dalam ijin, non restribusi, artinya pemkot sudah punya kepedulian terhadap usaha kecil, sehingga untuk siup dan tdp usaha kecil gratis, jadi kalau di tingkat pemkot saja free, apalagi di tingkat bawah kelurahan dan kecamatan mengurus SKDU juga free, kalau masih ada yang ngutip itu oknum yang harus di tindak.

Sayangnya layanan yang sudah bagus, tertimpa musibah,  BPPT Kota Bekasi mengalami  kebakaran, banyak arsip yang hangus terbakar dan musnah, tapi ada satu hal yang menarik data sudah tersimpan di komputer tidak musnah, ini terbukti kawan saya beberapa hari lalu mengecek pembuatan siup dan tdp, ternyata datanya masih ada tapi berkas-berkas persyaratan musnah terbakar, terpaksa dia ngirim berkas ulang. Wih ini keren data sudah terkompuerisasi dan disimpan  secara digital, apapun yang terjadi di BPPT data aman, mantap Bang Pepen.

Saya melihat ditingkat kecamatan ruang pelayanan sudah mulai ditata, di Kantor  Kecamatan Bekasi Timur, ruang pelayanannya sudah bagus, ada front office yg apik, ruang tunggu nyaman, ada televisi, pelayan juga cepat, ini wajib di pertahankan Walikota Bekasi, teruskan juga sampai tingkat kelurahan.

Saran saya kepada Bapak Walikota Rahmat Efendi, di ruang pelayan publik di pampang jelas tarif dan waktunya, sehingga ada kepastian biaya serta waktu penyelesaian pembuatan ijin, ini berfungsi untuk mengukur kinerja aparat dan bentuk kontrol masyarakat, kalau melebihi batasan waktu dan biaya berarti pelayanan belum optimal.

kalau pelayanan perijinan sudah mantap, pantaslah kalau boleh usul kepada masyarakat bekasi, Bang Pepen patut kita lestarikan dua peroide, wah kampanye nih !  ha..ha..ha...

Bukan hanya unsur pemerintah yang menata diri, masyarakat pun harus paham, sudah ada upaya perbaikan pelayanan dari pusat sampai daerah, wajib di dukung, wujud dukungan bisa dilakukan dengan cara mulai berani menolak tegas kutipan-kutipan liar, kalau anda mengurus perijinan usaha yang jelas-jelas gratis, terus diminta biaya mintalah kwitansi/cap stempel dengan  ditanda tangani petugas penerima, biasanya kalau pungli petugas tidak bakal berani memberi tanda terima, bisa juga anda catat nama dan no hp nya, kalau perlu photo publis di media sosial biar masyarakat luas tahu.

Bisa juga anda lapor ke pusat pengaduan   resmi, pemkot Kota Bekasi bahkan sudah mempelopiri keterbukaan, dengan memberi kesempatan masyarakat melaporkan pelaku pungli lewat Facebook wih hebat kan?

Anda masih takut melapor? Hari gini masih saja tidak berani bertindak saat di pungli, capek deh.




















Selasa, 18 Oktober 2016

Grand Closing Menutup Usaha Dengan Rasa Bahagia



.
Hari ini saya bersama  teman-teman TDA Bekasi  menghadiri acara bisnis unik, disalah satu rumah makan milik temen yang segera akan ditutup,  Judul acaranya keren  "Grand Closing menutup usaha dengan rasa bahagia". 

Teman saya ini tadinya punya 12 cabang Resto bebek, dengan Nama Bebek Judes,  satu persatu tumbang hingga tersisa satu, nah yang tersisa pun nampaknya sulit di pertahankan akhirnya grand closing, anehnya kawan saya ini tidak malu, minder atau terpukul ketika usahanya tumbang, maka diundang temen-temen TDA Bekasi untuk merayakan upacara grand closing, jadilah kita ikut merayakan bersama acara unik yang mungkin baru pertama kali saya hadiri di dunia,  menutup usaha dengan rasa bahagia ha..ha..ha..

Bisnis itu tidak lah selamanya sukses, bisnis itu bisa  gagal atau merugi, kalau keberhasilan asyik untuk dinikmati, apalagi kalau dinikmati bersama teman-teman ada rasa bangga, bisa menunjukan prestasi hebat dihadapan kawan dan relasi. Namun merayakan kegagalan dalam suasana bahagia bersama teman-teman itu ruaar biasa.

Menjadi menarik kenapa kawan saya ini bisa menikmati kegagalan dalam suasana ceria?  Mari kita bedah lebih lanjut, dalam kehidupan nyata  peristiwa silih berganti, ada senang, sedih, gundah, resah, gelisah,  ceria,  rangkain peristiwa itu adalah siklus kehidupan yang harus kita hadapi setiap saat. Teringat saya dengan ucapan seorang motivator Saut Sitompul,  peristiwa tidaklah penting respon terhadap peristiwa itu yang paling penting.

Jadi kalau mendapati sebuah keadaan yang tidak menyenangkan, sebagai seorang pebisnis hadapi dengan tenang, itu peristiwa biasa saja, tidak sulit, yang mesti kita lakukan bukan mengutuk peristiwa, tapi mengelola respon kita terhadap sebuah peristiwa menjadi positif, sehingga dalam mengambil keputusan kita tidak salah langkah.

Nah kawan saya ini mensikapi penutupan usahanya dengan cara sportif, rugi dalam usaha itu hal yang biasa, tidak perlu diratapi apalagi ditutupi, malah dia berpikir diluar kotak, kegagalan harus dinikmati bersama teman-temannya.

Apa sih penyebab kegagalan kawan saya yang membuka rumah makan bebek dengan sistem waralaba ini? menurut sohinul bait banyak faktor, diantaranya salah  milih patner, mis manajemen, kurang disiplin, patnernya yang punya duit pengen cepet untung sehingga abai terhadap pelayanan dan kwalitas. Pembelajaran penting disini kita jangan mengikuti jalan sesat yang pernah dilalui om kwek.


 Untungnya sebelum usaha bebeknya tumbang, om kwek alias Mas Adhi Widianto sang pemilik sudah membuat sekoci usaha di bidang weding dan catering, sehingga tatkala usaha bebeknya runtuh  dia masih bisa melanjutkan bisnis di jalur kuliner dan wedding jauh lebih sukses, nah ini juga penting membuat sekoci usaha agar tidak bangkrut total.


Teman-teman TDA itu memang banyak yang nyentrik, pernah dalam salah satu obrolan saat akan menyelenggarakan kegiatan Pesta wirausaha Bekasi, ada yang mengusulkan jangan cuma menampilkan pembicara sukses bisnis, adakan juga  materi kegagalan bisnis, temen tda yang bisnisnya gagal diminta memberi materi kenapa mereka bangkrut, proses menuju bangkrut, terus derita-derita saat bangkrut, duh melo bangat dah, itu tidak terlaksana di Pesta Wirausaha dan baru Sang Pemilik Bebek judes yang berani ngasih materi kegagalan usaha ha..ha..ha..

Saya juga secara berkelakar pernah membuat hipotesa menarik -saat masih tersesat di dunia kepartaian -  kenapa negeri ini pemimpinnya suka cakar-cakaran? Karena organisasi formal seperti ormas pemuda,keagamaan, partai politik dll, lebih suka mengadakan diklat latihan kepemimpinan, akhirnya semua anggotanya kepengen jadi pemimpin, karena formasi pemimpin itu sedikit ya mereka cakar-cakaran, mestinya di organisasi kemasyarakatan harus diperbanyak latihan jadi bawahan, sehingga mereka bisa paham jadi bawahan yang baik dan benar itu seperti apa, mau diperintah dan gampang diarahin.

Pembelajaran penting lain yang bisa kita petik adalah bisnis itu perlu perjuangan tidak instan, tidak seperti Kanjeng Dimas Taat Pribadi  yang bisa gandaain uang dalam waktu cepat,  banyak diantara mereka yang kini menjadi pebisnis hebat melalui proses jatuh bangun, dalam jangka waktu panjang, pernah gagal, bangkrut, bahkan ada yang sampai hutang menumpuk. Namun kegagalan itu bukan membuat mereka mengkerut, justru kegagalan menjadi pemicu mereka untuk bangkit meraih impian. om Adhi membuktikan itu gagal di resto sukses di Bisnis Catering dan Wedding

Akhirnya semua yang hadir di acara penutupan rumah makan bebek itu bahagia, tuan rumah juga sangat  bahagia, ternyata bahagia itu mudah,  bisa di ciptakan meski dalam suasana kegagalan, doa kita siapa tahu nanti om kwek bisa menciptakan Rumah Makan Bebek Judes  rebond, seperti Warkop Rebond amin

Buya Hamka ketika menafsirkan Surat Alam Nasroh, berkata,  saya di ajarkan oleh guru saya Buya Sutan AR. Mansur, apabila kamu dalam kesusahan bacalah Surat Alam Nasroh, disana dikatakan satu kesulitan di apit dua kemudahan, dalam kesulitan Allah beri dua kemudahan".

Jadi buat yang gagal dalam bisnis,pelajari dan resapi makna tafsir Alam Nasroh, maka walaupun dalam kesulitan, anda bisa membahagiakan banyak orang, seperti om kwek kawan saya yang unik ini. 

Yuk kita belajar memaknai kegagalan sama om kwek,
yuk....kita  belajar memahami makna Quran surat Alam Nasroh pada ulama yang kompeten, tentu saja beljara qurannya bukan kepada om bebek apalagi kepada Nusron Wahid he..he..he...




sekian

Minggu, 16 Oktober 2016

Ketika Produk Kamu Tidak Pede Tampil Di Televisi Disitu Saya Merasa Sedih


Seorang teman UKM menulis status di fb nya
 "sudah dua stasiun televisi menghubungi untuk meliput produk saya, 
tapi maaf saya belum siap

Televisi adalah media efektif untuk memperkenalkan produk, kotak ajaib itu dalam waktu singkat mampu memancarkan gambar secara bersamaan kepada jutaan orang. Dalam teori komunikasi pesan yang disampaikan dalam bahasa gambar dan visual, lebih cepat dicerna manusia, ketimbang pesan tulisan dan suara. Tidak heran televisi menjadi tempat iklan favorit dibanding media lain seperti koran dan radio,  belanja iklan terbesar media adalah televisi, meskipun biaya pasang iklan di televisi sangat mahal, namun para pebisnis lebih tertarik ke televisi  karena efeknya lebih dahsyak dan mengena.

Pengalaman saya, ketika produk saya bandeng rorod tayang di televisi, tidak lebih dari setengah jam selesai  tayang, responnya dahsyat, telepon, wa, chat, sms silih berganti masuk mencari info, ada yang langsung  pesan-antar, datang  ke gerai, tidak lebih dari satu jam stock sold out. Enaknya ada salah satu stasiun televisi yaitu El-Shinta menayangkan liputan bandeng rorod berulang-ulang dalam waktu berbeda, hasilnya tetap dahsyat produk saya makin di kenal, pelanggan dan reseller kian nambah.

Dampak lain dari hasil liputam televisi, kita punya file video profesional buatan orang televisi, video ini kerap saya gunakan untuk memperkenalkan produk, presentasi, mengisi pelatihan, sehingga kesan yang di tangkap  pihak lain,  usaha kita sudah sangat profesional. Di youtube video liputan bandeng rorod sudah mejeng, ketik kata  bandeng rorod di youtube ada beberapa video liputan televisi bandeng rorod muncul El-Shinta TV, MNC TV, Net TV, Bali TV inilah salah satu linknya https://www.youtube.com/watch?v=7gOuVy1OVBs, wah ini kok jadi iklan bukan nulis artikel  ha..ha..ha...

Bagaimana cara agar produk kamu bisa di liput televisi? Bayar berapa?  Cara diliput televisi gampang,  buatlah produk unik, bisa berupa nama,  kemasan, cara penyajian sampai cara pembuatan. Terus rajin-rajin ikut pameran, biasanya wartawan akan datang ke arena pameran melihat-lihat jika ada yang menarik mereka langsung mendekati dan menawarkan untuk diliput.

Bisa juga produk kamu  rajin di publish di media sosial fb atau istagram, banyak wartawan mencari sumber berita dari medsos,  agar produk dilirik  buat tampilan di medsos menarik, uraikan dengan kata-kata manis, lengkapi dengan photo-photo yang ok, juga data jelas, no hp, alamat, nama, agar mudah dihubungin.

Cara lain agar diliput televisi, buka pergaulan yang luas, perbanyak pertemanan pada sesama pebisnis, masuk komunitas bisnis dan aktiv. Lewat pertaman ini bisa saling sharing dan bertukar informasi, biasanya wartawan suka mencari info kepada pebisnis yang sudah diliput untuk mereferensikan temannya.

Bayarkah diliput media? Gratis,  ini semacam simbiosis 
mutualisme, media butuh nara sumber kita butuh publikasi, jadi ada saling membutuhkan, pengalaman saya mereka tidak minta biaya, bahkan di amplopin pun tidak mau, saya hanya menyediakan makan dan snack karena mereka butuh waktu panjang untuk meliput di tempat kita,  sebagai kenangan saya hanya kasih bingkisan produk kita kepada mereka untuk buah tangan.

Diliput televisi memang butuh kesiapan diri, karena mereka datang ke tempat produksi kita, meliput dari mulai proses produksi hingga produk akhir, tempat produksi yang bagus dan layak akan menjadi nilai lebih, agar kesan yang didapat pemirsa melihat usaha kita sudah profesional. Namun itu bukan berarti yang tempat produksi kurang layak tidak bisa diliput televisi, kalau nunggu siap, lah kapan siapnya? Sementara peluang yang ada sudah di depan mata, seperti status fb teman saya itu, duh sedihnya, peluang promo maha dahsyat di lewatkan hanya karena tidak pede ruang produksinya di liput televisi, disini saya merasa sedih.

Nah gimana ngakalin agar tetap diliput televisi sementara ruang produksi tidak siap? Ajak wartawan televisinya kompromi, minta mereka meliput produksinya di ruang rumah kamu  yang layak, atur proses produksinya misalnya diatas meja panjang, tata yang rapih mejanya dengan hiasan apik, kamu  bisa tampil layaknya chef sedang mengajarkan masak, bahan baku dan peralatan bisa disiapkan. Toh liputan itu kan bukan siaran langsung, kamu bisa berganti peran dan tempat setiap saat layaknya bintang sinetron.

Nah jika ada peluang di liput media televisi, segera tangkap peluang itu, jangan dibuang, apalagi melo dengan nulis status di fb, salah kunci sukses bisnis adalah berani tampil percaya diri, keberanian tampil di media televisi merupakan wujud kepercayaan diri, bagaimana mungkin orang percaya pada produk kamu, kalau kamu sendiri yang memproduksi tidak percaya diri.

sekian