Arsip Blog

Jumat, 12 Januari 2018

Khofifah


Diantara sekian banyak calon Gubernur yang berlaga di pilkada serentak 2018, satu yang saya salut yaitu ibu Khofifah Indar Parawansa, kenapa? Khofifah sudah dua kali kalah berlaga di Pilgub Jatim, Namun Khofifah kekeuh pada keinginan untuk tarung lagi yang ketiga, lawannya pun sama Gus Ipul, yg dulu Wagub sekarang tarung menjadi Gubernur.

Sangat jarang politisi yang punya nafas panjang, berani tarung tiga kali untuk jabatan yang sama seperti Khofifah, padahal kedudukan bergengsi menteri sudah ditangan, biasanya politisi setelah kalah bertarung namanya akan tenggelam, sulit untuk bangkit kembali, hebatnya khofifah meski tidak masuk dalam struktur partai manapun, bisa mengantongin tiket dari banyak partai.

Apa rahasia khofifah demikian dipercaya banyak orang? Saya kira faktor pribadi Khofifah yang memang cemerlang, dipercaya, mampu merangkul banyak teman, tidak cacat moral dan memasyarakat

Dalam prespektif kekinian, orang setype khofifah ini adalah petarung sejati, meski dua kali gagal Khofifah tidak kapok dan tarung ketiga kali. Type petarung diperlukan terutama bagi para politisi yang punya obsesi jadi pejabat, tidak gampang menyerah, berani bersaing, luwes, supel bergaul dan dipercaya, ketika kalah bangkit dan bertarung lagi hingga meraih kemenangan.

Bagaimana dengan La Nyalla Mattalitti gagal dapat tiket koar-koar di media mengaku di palak beli tiket? Ya anda lihat sendiri track recordnya selama ini, di PSSI ribut, pernah terkena kasus hukum, sekarang malah ribut sama partai yang pernah mau mengusungnya, politisi tanggung macam La Nyalla ini bukan type petarung, dia type pecundang yg cepet ngambek ketika gagal nyalon, partai pun mikir dua kali merekrut calon tukang ngambek seperti dia.

Jadi selain isi tas seperti yang dimiliki La Nyalla, kapasitas, kapabilitas dan integritas juga penting, Ridwan Kamil mengaku tidak keluar uang waktu dicalonkan Gerindra waktu Pilwakot Bandung, sekarang pun Ridwan emoh masuk partai atau jadi kader partai, soal duit? Ridwan tidak sekaya La Nyalla, Tetapi Ridwan Kamil dan Khofifah toh dapet tiket dari banyak partai.

Rahasianya integritas, kapabilitas dan kapasitas itu penting, jadi kalau anda mau jadi pemimpin cuma ngandelin isi tas, terus track record rusak, bisa sih dapet tiket dengan uang, tapi ya rakyat juga kagak bodoh, kagak bakalan dipilih bro.

Rabu, 10 Januari 2018

Cuap-Cuap


Mereka yang berpikir bisnis itu langsung praktek dengan mengabaikan cuap-cuap, kudu belajar bisnis lagi, saat ini sedang trend semangat berkomunitas, salah satu komunitas yang paling hits adalah komunitas bisnis, nah kegiatan paling antraktif dari komunitas bisnis itu adalah pelatihan, workshop, sampai seminar isinya kebanyakan cuap-cuap alias mendengarkan omongan para master dan mastah bisnis.

Saya sendiri sering diundang memberi cuap-cuap pengalaman bisnis dihadapan banyak orang mulai dari pemuda, mahasiswa, ibu rumah tangga sampai buruh dan phk, yang saya lakukan adalah memberi pengalaman bisnis, membuka wawasan berpikir yang berbeda dari kebanyakan orang awam bisnis dan memberikan motivasi bahwa bisnis itu mudah.

Pemerintah melalui kementrian, instansi dan dinas selama ini juga melakukan pendampingan melalui cuap-cuap, berbagai pelatihan dilakukan kebanyakan ya cuap-cuap mendengarkan omongan pakar bisnis, mengikuti arahan mereka dalam membangun bisnis mulai dari pemasaran, keuangan sampai manajemen usaha.

Lah kapan prakteknya? Bisa saja anda ikut pelatihan bisnis praktek langsung, kawan saya Yuyun Anwar pakar kuliner sering membuka whorksop membuat kuliner 2-3 hari, isinya kebanyakan praktek di banding cuap-cuap, balai latihan kerja sering mengadakan kursus keahlian tertentu isinya pasti kebanyakan praktek ketimbang teori yang cuma cuap-cuap, tapi apa menjamin mereka yang diberi materi 100 persen praktek bisa jadi pebisnis handal? Belum tentu.

Nah bisnis itu bukan soal praktek, bisnis itu soal mental dan mainshet berpikir, mereka yang tukang cuap-cuap itu sesungguhnya melakukan transfer cara berfikir sebagai seorang pebisnis, tidak perlu menunggu ahli untuk menjadi pebisnis, misalkan anda mau bisnis ayam goreng, tidak mesti anda paham tentang ayam goreng, kalau anda punya modal tinggal beli waralaba ayam goreng semua sudah disediakan dari sarana sampai karyawan, tugas anda tinggal memanage sehingga bisnis menjadi untung, nah ilmu memanage itulah yang sering diajarkan para mastah bisnis.

Saya sering menyampaikan materi jurus APH Action-Pikir-Hitung, bisnis itu action, nah bagaimana memulai action itu? Apa saya langsung terjun? Ya tidak juga action itu diawali dengan menentukan jenis bisnis yang akan kita tekuni, mempelajari dan mencari ilmu dasarnya, nah ide jenis bisnis dan cara memulai bisnis itu bisa anda dapat darimana saja, salah satunya dari pelatihan yang isinya cuap-cuap.

Jadi ketika ada wakil rakyat di DKI bilang ok oc itu cuma cuap-cuap, sesungguhnya dia sedang melakukan pembodohan, seolah -olah cuap cuap tidak penting, mereka yang isi materi cuap-cuap bisnis kebanyakan adalah para praktisi yang setiap hari bergelut dengan bisnis, pengalam mereka bisa menjadi guide bagi mereka yang mau memulai bisnis, jadi para mastah itu bukan tukang obat pinggir jalan, mereka di undang sebagai pembicara karena memang layak untuk memberi materi bisnis.

Sesungguhnya tukang cuap-cusp sejati itu anggota legislatif, mereka di pilih dan digaji untuk cuap-cuap, ada tiga fungsi anggota legislatif : buggeting (anggaran), pengawasan dan legislasi (membuat undang-undang) itu semua kerjaan cuap-cuap, jadi sesama tukang cuap-cuap dilarang saling mendahului wkkk

Minggu, 31 Desember 2017

Muhasabah Bisnis 2017



Seharian ini saya mengevaluasi bisnis Bandeng Rorod di tahun 2017, dari volume produksi yang tercatat, terjadi penurunan, otomatis terjadi penurunan omzet dan juga laba, namun dari sisi lain saya masih menuai "untung"

Sebagai contoh, sedari awal saya berkomitmen bisnis punya legalitas komplit, usaha keras saya lakukan untuk mencapai itu, meski butuh waktu lama dan biaya besar, nah tahun 2017 ini saya mendapat kado istimewa, keluarnya Sertifikat Merk Bandeng Rorod dari Dirjen HKI Kemenkumham Januari 2017 dan Ijin Edar Olahan Pangan dari BPOM Juni 2017, kedua legalitas ini teramat penting untuk kemajuan bisnis saya kedepan.

Merk merupakan indentitas produk sekaligus visi bisnis kedepan, semenjak memulai bisnis saya memegang teguh visi bisnis menjadikan produk saya Bandeng Rorod sebagai oleh-oleh khas Bekasi yang mendunia, segala daya dan upaya saya arahkan, waktu, tenaga dan pikirin untuk memajukan bisnis ini, keluarnya Sertifikat Merk merupakan pengakuan dari negara bahwa merk Bandeng Rorod Menjadi Hak Ekslusif saya, tidak boleh pihak lain meniru, menjiplak apalagi memalsukan merk Bandeng Rorod.

Ijin edar MD dari BPOM merupakan sebuah pengakuan bahwa produk saya memang memenuhi standar mutu hygenis, kesehatan, kebersihan sesuai standar BPOM, beberapa kali produk saya di uji lab, selalu lolos standar mutu yang ditetapkan, ini menunjukan konsistensi produk saya yang di produksi secara berkesinambungan dengan alur produk bagus dan tepat.

Kok menurun? Ya biasa lah bisnis itu turun naik, tahun ini meski tidak diakui pemerintah terjadi penurunan ekonomi, faktanya banyak perusahaan yang tutup gerai, memangkas karyawan sampai bangkrut, itu hal biasa bahkan bagi seorang pebisnis sangat biasa, hiburannya penurunan bisnis saya tidak sendirian, banyak kok yang bilang terjadi trend penurunan bisnis di tahun 2017

Meski secara produksi menurun, Allah tetap memberi ruang rejeki dari sumber tidak terduga, tetiba saya dimasukan menjadi binaan Balai Perikanan KKP lalu mendapat fasilitas free kemasan produk, ada proyek pelatihan dari Dinas Pemuda Olahraga yang cukup buat beli sarana tambahan, diminta ngisi beberapa pelatihan dengan barter jualan Bandeng Rorod, ada juga yang nitip amplop sebagai pembicara pelatihan wkkk.

Paling fenomenal disuruh jadi pembicara di BPOM, diminta testimoni tentang pengalaman mengurus ijin edar ke pegawai Balai POM seluruh Indonesia, dulu waktu pendampingan BPOM rada ngeri menghadapi penilaian dari Balai POM Bandung, gregetan dan gondok, nah pas jadi pembicara dikeluarin tuh semua unek-unek ke pegawai balai, termasuk balai POM Bandung, ujungnya tetep dianggap sebagai pembicara dan ada honor hehehe.

Terakhir saya ditunjuk sebagai Pendamping Wirausaha Baru (WUB) oleh Dinas Industri dan Perdagangan Propinsi Jawa Barat atas rekomendasi Dinas Indah Kota Bekasi, alhamdulillah kiprah saya sebagai Ketua UMKM  Mamin Kota Bekasi, terdata dan terlacak oleh pihak Dinas Kota, hubungan baik yang terjalin selama ini merekomendasikan saya untuk berkiprah di Jawa Barat, bertemulah saya dengan para pendamping seluruh Kota/Kabupaten se Jawa Barat, menambah pertemanan, wawasan dan pengalaman baru, nah karena ini program resmi pemerintah adalah honor pelepas lelah.

Oh ya tahun ini juga saya direkomendasikan sebagai anggota Dewan Ketahanan Pangan dan Dewan Kota Cerdas (DKC), subhanalloh saya bisa berkenalan dengan aparat pemerintah lintas dinas, bisa berinteraksi dengan beragam komunitas di Bekasi, mulai dari profesional, akademisi sampai pelaku bisnis dari Kadin, Dekopin, Iwapi, Apji, dll. Lagi-lagi kiprah sebagai penggiat UKM menghantarkan saya berkenalan dengan banyak orang lintas komunitas.

Sebagai penutup rejeki itu bukan hanya di dapat lewat penjualan produk saja, sebagai pebisnis kita tidak mesti berpikir bisnis orientid, bisnis harus di imbangi dengan kiprah sosial dan spiritual, dengan aktiv berbagi pengalaman dan pengetahuan di masyarakat, bisa lewat komunitas atau organisasi kemasyarakatan, ketika kiprah kita terekam jelas, maka Allah menyeimbangkan rejeki kita, tidak hanya dari jualan, kiprah kita di kegiatan sosial pun menjadi lahan rejeki tambahan.
Rejeki yang paling nikmat dan tidak bisa diukur dengan materi adalah si cantik yang setia, menemani melewati hari-hari penuh perjuangan membesarkan usaha dan membesarkan dua buah hati bersama, kedua putra dan putri sudah mendekati dewasa, alhamdulillah selalu diberi kesehatan.

Tahun 2018 segera kita lewati, mudah-mudahan di tahun ini, ekonomi membaik, bisnis lancar dan kita semua di beri kesehatan untuk menjemput rejeki Allah, demikian muhasabah Bisnis saya.
Bekasi 31 Desember 2017
Jelang Pergantian Tahun 2018

Sabtu, 30 Desember 2017

Pedagang Kecil Mandiri (PKM)


Apa itu Pedagang Kaki Lima (PKL) mari kita kutip definisinya di Wikipedia, Pedagang Kaki Lima atau disingkat PKL adalah istilah untuk menyebut penjaja dagangan yang melakukan kegiatan komersial di atas daerah milik jalan (DMJ/trotoar) yang (seharusnya) diperuntukkan untuk pejalan kaki (pedestrian ).

Bagi penguasa sebuah Kota PKL tidak lebih dari musuh nyata, PKL sering memanfaatkan jalan dan trotoar sebagai tempat berdagang, menimbulkan kekumuhan, kemacetan, merusak pemandangan kota dan harus di singkirkan, paradigma berpikir penguasa kota tetap saja primitif bukannya melokalisir, menata dan membina PKL, mereka berpikir instan PKL harus di tertibkan.

Satpol PP sebagai aparat terdepan menjadi petugas utama melakukan penertiban, maka ketika penertiban terjadi seringkali kita melihat sebuah tragedi kemanusian, barang di rampas, PKL ditendang, sampai gerobak diangkut, PKL menangis meraung-raung, Satpol PP menunjukan watak arogan.

Ada yang bersorak girang ketika PKL ditertibkan, bahkan ketika Anies-Sandi menata PKL di Tanah Abang beramai-ramai dihujat, semua bekoar melanggar UU, ajaibnya ketika Reklamasi dan Meikarta dibangun melenggang bebas tanpa peduli UU - Dedy Mizwar bilang Meikarta seperti negara dalam negara - dengan melanggar berbagai undang-undang, ratusan pertokoan dan rumah berdiri tanpa IMB, Amdal yang ngawur, mereka semua mingkem, mereka seakan lebih bangga pada aseng yg melanggar hukum, ketimbang Gubernur yang peduli pada rakyat kecil memberi secuil tempat berdagang dengan menghujat sebagai pelanggar UU.

Ahmad Dani pernah bilang secara sarkasme tentang PKL “Kita menoleransi keberadaan pedagang kaki lima yang ngembat badan jalan karena butuh makan murah,” kata Dhani. Strike two!"
Dhani Benar banget tengok di gedung-gedung jangkung di perkantoran ibukota, mereka yang kelas menengah, berdasi dan bergaji tinggi, rela makan dipinggir jalan yang kumuh dan jorok, hanya ingin mencari makanan murah dan terjangkau.

Jangankan di gedung jangkung, mereka yang berlibur di hotel berbintang, menggunakan mobil mewah, emoh makan di hotel, paling untuk sarapan gratis yg disediakan hotel mereka mau makan, selebihnya mereka pasti lebih suka beli di kaki lima ketimbang di hotel, untuk seporsi nasi goreng di hotel bisa mencapai 50 ribu, di kaki lima hanya 20 ribu.

Mana mau mereka berlibur sambil ngajak pembantu dan sopir makan nasi goreng seporsi 50 ribu? Jadi mereka yang teriak musnahkan PKL susungguhnya munafik karena mereka juga butuh PKL untuk menghemat biaya makan.

Maka ketika Anies-Sandi merubah PKL menjadi Pedagang Kecil Mandiri (PKM) teramat tepat, PKL itu sesungguhnya pebisnis sejati mereka modal mandiri, tiada kucuran dana pinjaman dari pemerintah apalagi dapat pinjaman BLBI, mereka tidak pernah merengek pada pemerintah untuk dikasih fasilitas ini itu - sementara pengusaha besar rajin mengeluh, minta insentif pemotongan pajak (bahkan di beri ampunan pajak), kemudahan regulasi sampai menekan UMR. Tidak ada ceritanya PKL itu kolusi pada penguasa, apalagi membawa lari duit BLBI, yang ada mereka lari-lari dikejar satpol PP.

Satu-satunya kesalahan PKM itu hanya berdagang bukan pada tempatnya, itupun terjadi karena ketiadaan modal dan minim akses ke perijinan, kalaulah pemerintah lebih peduli, memberikan akses tempat, permodalan dan perijinan yakin PKM akan berkembang pesat.

Maka kepedulian penguasa teramat di perlukan untuk membina para PKM, kepedulian itu di tunjukan secara simultan bukan live service, bukan pencitraan apalagi buat modal terpilih lagi di periode betikutnya, keberpihakan Anies-Sandi patut di apresiasi, meski belum sempurna tapi setidaknya pada sikap dan kebijakan telah ditunjukan, hasilnya bagaimana? Waktu yang akan membuktikan.

Selasa, 26 Desember 2017

Cerai


Sesekali ngebahas gosip ah, kata wartawan infotaiment gosip itu adalah fakta yang tertunda, sebelum fakta terbuka, biasanya dimulai dari bisik-bisik tetangga, lalu membesar dan akhirnya fakta terungkap menjadi kebenaran.

Kisah perceraian rumah tangga publik figure mulai dari artis, politisi, pejabat sampai ustadz selalu menarik jadi bahan berita infotaiment, gosip berita tidak akan lengkap tanpa bumbu, maka dicarilah kabar mengapa terjadi perceraian, nara sumber diburu untuk kasus cerai jadi ramai, mulai dari teman dekat, tetangga, psikolog sampai asisten rumah tangga diwawancarai, masyarakat pun ikutan ngegosip perceraian si anu, dengan sudut pandang masing-masing jadilah heboh.

saya tidak akan membahas kenapa bisa terjadi cerai, namun yang harus di kaji dampak dari perceraian, cerai itu perbuatan halal yang di benci Allah, dibenci manusia saja tidak bisa tidur apalagi di benci Allah, Nauzubillah minzalik, ada sejuta alasan untuk bercerai, mulai dari selingkuh kdrt, tidak lagi ada kecocokan, di duakan dll.

Siapa korban pertama perceraian? Anak adalah korban pertama, mereka akan bingung ketika bapak ibu berpisah, apalagi perpisahan itu didahului pertengkaran yang saling menyakitkan, antara sayang ibu dan bapak, bisa jadi seorang anak terbelah kepribadiannya.

Sebaiknya memang cerai di hindari, caranya ya dengan merawat perkawinan, menghindari perselisihan, membuat perbedaan menjadi sebuah bumbu dalam melanggengkan mahligai rumah tangga.

Susah? Tidak juga kalau diantara suami istri menghilangkan ego masing-masing, pandai berkomunitasi, banyak contoh mereka yang mampu mempertahankan rumah tangga sampai kakek-nenek, hanya maut yang memisahkan mereka.

Tapi kalau susah didamaikan, terlanjur tersakiti, ya apa boleh buat cerai, satu hal yang harus kita pahami cerai itu domain privat bukan publik, jadi tidaklah tepat membahas masalah privat ke ranah publik, jadi sikap kita terhadap sebuah perceraian ya no coment lah, cukup dalam hati comentnya. Sikap terbaik ya mendoakan semoga diberi jalan keluar terbaik.

Hal lain yg juga wajib di mengerti, cerai itu bisa melanda siapa saja dari masyarakat biasa, ustadz yang mumpuni agama, sampai pemimpin yang dipandang pengagumnya setengah dewa, cerai hal yang manusiawi, karena dunia ini tidak ada yang sempurna, tiada gading yang tak retak.

Jadi jangan baper jika tokoh panutan dan pujaan hati anda nampak luar digambarkan media sangat sempurna, cinta istri dan anak, tampil mesra di depan publik, tiba-tiba retak rumah tangganya ah itu peristiwa biasa.

Menjadi luar biasa karena media terlanjur menggambarkan sang tokoh manusia maha sempurna, lalu terjadi pemujaan berlebihan, ketika retak rumah tangga sang tokoh, pemujanya menjadi baper, kaget, tidak bisa tidur terus hilang kewarasan lalu bikin pembelan dengan argumen lucu, katanya dia menceraikan sang istri karena saking cintanya.

Cinta kok istri dicerai walah ngawur.

Senin, 25 Desember 2017

Ngelapak (bagian 1)


Anies mencoba menata Tanah Abang dengan mengakomodir pedagang berjualan dijalan, kebijakan itu ditanggapi sinis lawannya,mereka nyinyir dengan memberi label macam-macam : jalan kok di pakai jualan, itu melanggar uu lalulintas, Anies jangan tersandera janji kampanye.

Bahkan ada yang nulis status dengan nada sinis abis
Jualan itu DIPASAR!!!!
Bukan dijalanan
Jalanan itu utk lalu lintas umum
Trotoar itu utk pejalan kaki
Moga otak gw ga mengkereeeeet dengan keanehan"

Seorang Couch yang memang dari sononya pendukung kelompok sebelah menulis panjang x lebar sama dengan luas tentang ini, diakhir tulisan Couch itu seperti kehilangan akal sehat dengan menulis kebijakan populis seperti gerombolan preman.

Benarkah kebijakan Anies salah karena menjadikan jalan sebagai tempat jualan? Mari kita cek kebijakan beberapa kepala daerah, di tempat saya Kota Bekasi di kawasan Pasar Baru hampir setiap malam pedagang diakomodir jualan ditrotoar dan jalan di malam hari, pagi harinya sebelum jam 06 mereka wajib merapikan barangnya, bahkan Jalan Moh. Yamin dari depan pasar Baru sampai rel kereta Api tertutup permanen di pakai para pedagang.

Ada kawasan kuliner kota Bekasi ditempatkan di sisi jalan secara permanen, pada malam hari separuh jalan di pakai untuk tempat makan, jaraknya hanya 100 meter dari jalan utama Kota Bekasi Jl. Ahmad Yani, apakah Walikota Bekasi Melanggar Aturan ?

Setiap minggu jalan di arena cfd di Jakarta dan Bekasi dan seluruh jota-kota besar di Indonesia ditutup untuk program langit biru cfd, banyak pejalan kaki memanfaatkan jalan raya dan para pedagang juga ikut jualan disana, apakah melanggar hukum?

Kalau anda jalan-jalan ke Yogya di jalan utama Malioboro, pedagang besar, pedagang kecil, kuliner lesehan, becak, sampai dokar bisa harmonis bersatu mengais rejeki, mereka mrmanfaatkan trotoar dan jalan untuk lesehan, apa pemerintahan Jogya Melanggar Hukum?

Bahkan dulu pernah kejadian, salah satu jalan di Jakarta di tutup bertahun-tahun oleh Kedutaan Inggris, tidak ribut tuh, seperti sekarang, apakah Pemkot Jakarta di masa lalu tidak melanggar hukum dengan melakukan pembiayaran?

Jadi jangan dibikin alasan macem-macem untuk menyinyirin gubernur baru, kritik silahkan, tapi mbok ya biasa saja kritiknya jangan sampai melambai seperti lgbt, kalau program itu gagal ya berarti memang kurang pas.

Gubernur dulu juga punya program memidahkan PKL ke Blok G Tanah Abang, setelah di puji setinggi langit oleh media, konon kabarnya pemindahan itu sukses, faktanya gagal juga, Blok G tetep sepi tuh dan pedagang banyak ngeluh.
http://megapolitan.kompas.com/…/pasar.blok.g.tanah.abang.ma….

Jadi kebijakan memanfaatkan jalan sebagai penampungan PKL itu bukan hanya di lakukan Gubernur DKI, pemda lain juga melakukan, bukan berarti mereka melanggar hukum, mereka membuat kebijakan diskersi buat mengakomodir rakyatnya, kalau jalan di tutup permanen bolehlah dianggap melanggar, lah ini jalan kan ditutup sementara pada jam tertenju saja. Nyinyir boleh, otak di warasin dulu lah.
(Tamat).

Minggu, 24 Desember 2017

Ngelapak (bagian 1)


Pernah kah anda berjualan ngelapak di pinggir jalan? Saya pernah bahkan sampai hari ini saya bersama-sama teman UKM Mamin, ngelapak bersama di CFB Bekasi setiap minggu, banyak suka duka yang saya alami, salah satu dukanya, ketika suatu hari tanpa pemberitahuan lapak kami di gusur, alasannya karena pedagang menganggu pengunjung yang datang di cfd.

Nah saat itu kebetulan Walikota Bekasi beserta aparat sedang olahraga di lokasi cfd, langsung saya datangi, protes di hadapan Walikota.

"Kenapa lapak kami di gusur pak" tanya saya
"Kamu siapa?" Tanya walikota
"Saya Ketua UMKM mamin kota Bekasi, saya UKM Binaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bejasi kami dagang di cfd atas ijin kepala dinas" kata saya menjelaskan.

Kemudian saya debat panjang sama Walikota, ujungngya saya diarahkan ketemu Kadis Indag untuk diatur ulang, jadilah saya dan teman-teman punya lapak tetap, atas kebijakan Walikota lapak pedagang cfd diatur ulang dengan tidak menganggu pengunjung cfd

Ketika Anies menata kawasan Tanah Abang, dia memberi ruang lebih para pelapak pedagang PKL, pelapak yang tadinya dianggap sampah, diusir dan disita barangnya, kini dimanusiawikan dengan memberi tempat yang layak dengan mengorbankan sebagian jalan untuk mereka dengan waktu terbatas pukul 08.00 - 16.00.

Sebagai sesama pelapak, Saya menyambut positif kebijakan itu, merupakan bagian dari upaya memanusiawikan para PKL, mereka rakyat Indonesia juga, mereka berhak mendapat fasilitas negara, kenapa para penunggak pajak di beri subsidi negara dalam bentuk bonus amnesti pajak, pedagang kaki lima tidak berhak dapat juga subsidi?

dulu ketika para konglomerat di beri kebebasan membuat bank, beramai-ramai mereka mendirikan bank, sayangnya duit simpanan masyarakat tidak di kelola dengan baik di bank mereka, di pakai dan dipinjamkan untuk usaha sendiri, ketika krismon terjadi bank kolaps, mereka tidak mampu membayar duit nasabah yang rush, akhirnya mereka di bantu pemerintah dalam bentuk BLBI, mereka dikasih pinjaman ratusan trilyun dengan jaminan aset mereka.

Namun asset yang di jaminkan ada yang bodong, teganya uang pinjaman BLBI pun diselewengkan, ada diantara mereka yang kabur keluar negeri meninggalkan tanggung jawab dan membobol uang negara. Akibat ulah mereka sampai hari ini seluruh Rakyat Indonesia harus menanggung kerugian mereka dalam bentuk bunga BLBI yang jumlahnya ratusan milyar.

Anies mencoba memberi setitik uang negara untuk mengakomodir mereka, memberi mereka fasilitas dengan biaya murah, 400 orang pedagang di akomodir untuk berjualan, lah di kecam dan diberi label macem-macem.

Loe tuh pada diem bae ketika uang negara di jarah pengusaha hitam, Pemda DKI cuma sekedar ngasil fasilitas kecil buat pedagang kecil diributin. Loe pada waras?
(bersambung)