Arsip Blog

Selasa, 05 Desember 2017

Salam Dua Periode


Salam dua periode begitulah yang sedang didengungkan oleh pendukung dan tim sukses tingkat pusat dan kota jelang tahun politik 2018 dan 2019. Ditingkat pusat pastinya memenangkan kembali Jokowi di Pilpres 2019 dan di tingkat Kota Bekasi memenangkan Kembali Bang Pepen di Pilkada Serentak tahap dua di 2018, saya tidak akan bahas 2019 masih jauh, saya akan menulis pilkada Kota Bekasi yg tinggal beberapa bulan lagi.

Buat saya pribadi Pilkada Kota Bekasi itu penting untuk kemajuan kota Bekasi kedepan, lewat kebijakan kepala daerah wajah sebuah kota bisa terlihat dan tertata rapih, lewat kebijakan kepala daerah kesejahteraan dan keadilan bisa terwujud, kepala daerah merupakan garda depan dalam menstimulus kemajuan rakyatnya.

Lalu apa sih yg saya harapkan untuk pemimpin Bekasi kedepan? Yang pasti pertama wajib muslim, ah sara tuh ! Lah suka-suka gue dong, kalau kafir ogah gue milih. Kedua tentu kudu sopan dan welas asih sama warganya jangan seperti si mantan pemimpin tetangga sebelah yg hoby ngeluarin kata-kata kotor.

Sebagai penggiat ukm, saya merindukan pemimpin yg punya program dan kepedulian tinggi pada ukm, di tingkat Propinsi, Gubernur Jawa Barat punya program unggulan Wira Usaha Baru (WUB) kini sudah lebih 100 ribu warga Jabar ikut program ini, sementara Tetangga sebelah gubernur baru Anies-Sandi punya program unggulan Ok Oc untuk peningkatan kapasitas UKM terus Kota Bekasi apa program unggulan untuk UKM nya?

Bekasi dijuluki kota jasa dan perdagangan, maknanya Bekasi kota bisnis, maka ketika bisnis dijadikan magnit sebagai icon, selayaknya UKM diberi peran lebih dengan pemberdayaan nyata dan kongkrit.

Nah kita menunggu nih program apa lima tahun kedepan para balon walikota untuk UKM, mau dibawa kemana UKM? Dijadikan apa UKM? Sudahkah para UKM di beri kiprah jelas dalam derasnya pembangunan Kota Bekasi? Jangan ampe UKM tergerus di kampung dewek dikalahkan oleh para kapital besar yang sudah menanamkan invest di kota bekasi.

Mal, hotel, pusat keramaian, perkantoran berdiri megah di Kota Bekasi, apakah produk UKM bisa masuk kesana, lewat regulasi Pemkot? Atau lebih pastinya apakah Pemkot dalam memenuhi sarana kebutuhannya mulai dari atk, makanan dan minuman didapat dari membeli produk-produk UKM? Semisal konon anggaran makan minum Kota Bekasi mencapai milyaran rupiah per tahun, mungkinkah mereka membelinya dari pelaku UKM?

Beberapa waktu lalu UKM dijanjikan gedung refresentatif dengan anggaran puluhan milyar, kita sudah girang punya pusat ukm yg bakal jadi tempat kumpul, jualan, promosi dan sharing, dijanjiin mau beli ruko di pusat keramaian yg jadi icon Bekasi saat ini Sumarecon.

Ah.....ternyata itu hanya kentut surga, saya denger anggaran di tarik ulang batal, terus ada selentingan akan dibangun di tanah fasum dan fasos milik pemkot, lah kalau ngebangun di tanah fasum/fasos mah mending nggak usah, pasti lokasi fasum/fasos itu jauh dari pusat keramaian, kalau tempat sepi mana bisa jualan?

Jadi kalau diajak teriak salam dua periode saja, tanpa visi dan program jelas ogah dah, itu sama saja beli kucing dalam karung, kita cari dulu yang danta mau bantu UKM kagak? syukur ada calon yang out of the box seperti Sandi yg punya latar belakang bisnis, sehingga senafas dengan pelaku UKM maka pasti gue pilih dah.

Jadi sori dah yang teriak kenceng salam dua periode, ane mah pemilih cerdas tidak boleh terbawa arus kampanye para calon yang tiba-tiba merakyat dan menyapa rakyat jelang pilkada, habis pilkada menang lupa sama janji hehehe.

Ditunggu undangan para calon walikota untuk para pelaku UKM, ane pingin bedah visi misinya untuk UKM kalau perlu bikin kontrak politik di notaris bantu UKM secara danta, cocok kan?

Senin, 04 Desember 2017

Presiden itu Bukan Manusia Biasa



Saya sering ikut bazar di berbagai tempat, namun baru kali ini ikutan bazar dengan persyaratan ribed dan ketat : harus nyerahin photo copy ktp dan kk, membuat surat pernyataan diatas meterai dengan berbagai syarat dan tidak boleh membawa kompor di arena bazar, loading barang paling telat jam 05.00 pagi dan kudu punya id card/undangan untuk masuk lokasi bazar

Nah pas hari H jam empat pagi saya sudah loading barang dengan naik motor, pas di pintu masuk stadion, sudah tidak boleh masuk, pengamanan di gerbang super ketat. Seorang teman protes sama aparat katanya loading paling telat pukul 05.00 ini baru jam 04.00 sudah tidak boleh masuk, aparat dengan enteng bilang

"Ibu berurusan dengan bazar, saya berurusan dengan kedatangan Presiden", pastinya juga pak polisi berurusan dengan keamanan dan keselamatan presiden.

Akhirnya saya cari jalan lain memutar stadion sampai ketemu jalan pintu masuk yg hanya bisa dilalui orang, nah di pintu masuk ini pengaman tidak terlalu ketat, para pedagang kaki lima bebas keluar masuk, agak aneh juga kok mereka bisa keluar masuk sembarangan? lah saya dkk mau ikutan bazar kudu ikut aturan ketat?

Jelang jam 06.00 pagi, sterilisasi dilakukan, tentara bersenjata lengkap menjaga pintu, satpol pp mengusir pedagang dadakan dengan keras agar meninggalkan lokasi, mereka yg tidak punya undangan diminta keluar, nah kami pedagang resmi boleh tetap jualan di dalam lokasi.

Perkiraan saya tempat kami jualan itu sebutlah ring dua steril dari pihak yang tidak berkepentinhan, ring tiga di area parkir kendaraan pagar luar tempat kami jualan, juga steril dari bukan peserta acara, memasuki ring utama di dalam stadion pemeriksaan lebih ketat, masuk satu persatu dan harus menunjukan undangan, hanya mereka yang punya undangan yg boleh masuk.

Saat pulang acara, saya naik go car sang supir bercerita, bahwa tadi malam saat sedang istirahat di seputar stadion dia di bangunkan tentara untuk pindah parkir di tempat lain, padahal hari biasa tempat itu, biasa dipakai sebagai tempat istirahat angkutan online.

Seorang teman menulis status lalu lintas sementara di hentikan, karena presiden mau lewat usai menghadiri acara di Stadion Patriot Bekasi.

Begitulah gambaran bagaimana kehadiran seorang presiden, sebagai pedagang yang biasa ngelapak, aturan main ikut bazar di Acara HUT PGRI yang dihadiri puluhan ribu guru di seluruh Indonesia di Stadion Patriot Kota Bekasi, memang agak lebay segala kudu nyerahin copy ktp/kk dan bikin surat pernyataan diatas meterai.

Tapi dari sisi pengamanan seorang kepala negara saya maklumi, barangkali itu sudah protap mengawal seorang presiden, sekecil apapun potensi gangguan keamanan presiden, hatta sekalipun dari pedagang yg kecil kemungkinan melakukan tindakan sabotase presiden, tetap tidak luput dari perhatian pihak aparat.

Jadi yang harus dipahami, presiden itu bukan orang biasa, presiden itu mahluk luar biasa di negeri ini, karena dia dipilih oleh lebih dari 250 juta rakyat Indonesia, sebagai mahluk istimewa presiden punya protap pengawalan khusus yg secara awam buat kita barangkali lebay alias berlebihan, tapi memang begitulah protap harus dijalankan secara rinci dan jelas, kalau sampai presiden terganggung keamananannya, atau sampai jempolnya luka, pastilah komandan paswampres kena getah, dianggap tidak becus mengawal presiden.

Nah kalau presiden yang sekarang, begitu merakyat tiba-tiba berhenti di jalan, keluar dari mobil terus bersalaman, bagi-bagi sesuatu dan berselfi ria saya kira itu juga sudah ada protapnya, sudah punya tuh paswampres aturan bagaimana mengatur pengawalan presiden saat tiba-tiba dia berhenti dan keluar dari mobil kepresidenannya, berdasarkan kebiasaan presiden selama ini.

Presiden memang mahluk istimewa, saya maklum kalau presiden dikawal ketat, menurut saya sih sikap presiden yang merakyat dengan mencoba lebih dekat pada rakyatnya, bersalaman, photo bersama dan bagi-bagi sepeda itu bagus, untuk menunjukan tidak ada jarak antara presiden dengan rakyatnya, tapi bagaimanapun merakyatnya seorang presiden dia punya batasan protap keamanan, tidak bisa dong presiden seperti ketua RT melenggang sendirian tanpa pengawalan, entar kalau ada yang nyulik bisa repot negeri ini.

Menurut saya sih presiden yang merakyat itu adalah : ada pada kebijakannya yang merakyat, misalnya kepedulian pada rakyat miskin, kebijakan subsidi buat yang tidak mampu, pengendalian harga, menciptakan lapangan kerja yg banyak buat rakyat, juga peduli pada ukm seperti saya hehehe, bukan cuma pada perilaku yg merakyat, kalaupun perilaku itu dianggap merakyat ya... anggap saja itu bonus.

Tapi buat saya dkk kehadiran presiden di Bekasi tetep membawa berkah, dagangan laris manis dan omzet tinggi, ampe kita-kita tidak tahu kedatangannya dan tidak nyimak pidato presiden, kecuali pas 
pulang mobil presiden dan rombongan lewat depan tenda kami.
Terima kasih Pak Presiden
Telah berkunjung Ke Kota Kami
Kota Patriot Bekasi.

Sabtu, 02 Desember 2017

Reuni


Reuni itu berasal dari 2 suku kata, yaitu “Re” yang artinya kembali dan “Uni” yang artinya bersatu. Jadi jika digabung maka bisa diartikan “Kembali Bersatu” . Tujuannya adalah berkumpulnya kembali dengan teman, rekan, saudara, bahkan keluarga yang mungkin sudah lama tidak bertemu.

Makna lama tidak bertemu itu relatif bisa sebulan, setahun, puluhan tahun, jadi reuni itu bukan hanya domain reuni alumni sekolah atau kampus, bisa juga reuni yg lainnya, seperti relawan Jokowi ngadain reuni untuk mengenang kembali perjuangan memenangkan Jokowi di pilpres lalu dan konsolidasi ulang memenangkan lagi Jokowi di 2019.

Agak lucu ketika pejabat setingkat Wiranto mengomentari Reuni 212 di online Detik seperti berikut:
"Wiranto menilai kelompok massa 212 berbeda dengan lulusan sekolah atau kelompok paguyuban yang sifatnya permanen"

"Beda dengan reuni sekolah, reuni universitas, paguyuban-paguyuban apa, dan sebagainya yang bersifat permanen itu saya kira lazim. Tapi kalau ada satu gerakan bersifat temporer situasional kemudian mengadakan reuni dan alasannya saya belum tahu," katanya.

Reuni 212 dibilang tidak lazim karena gerakan temporer, lah kalau reunian relawan Jokowi lazim? dia juga gerakan temporer.

Soal motif reunian ya bisa macem-macem tergantung orang yang mau reunian lah, jangan ditanya motif, selama reuni itu tidak melanggar hukum, tidak melanggar uu ya sah-sah saja orang ngadain reuni.

Terus ada yang bilang reuni 212 bermotif politik! Lah kalaupun bermotif politik emang dilarang? Memangnya yang boleh berpolitik itu partai saja atau aktivis partai saja? Di luar itu tidak boleh? Apakah relawan Jokowi kumpul tidak bermotif politik?

Komentar para pejabat kita itu terkadang lucu dan menjungkirbalikan logika, ketika menanggapi gerakan lawan, mereka suka bermain logika tidak cerdas, dengan argumen ngawur, mereka berpikir seakan rakyat bodoh tidak paham logika berpikir yang runtut dan jelas.

Metro tv dan media utama lainnya menggiring opini kegiatan reuni 212 sebagai kegiatan intoleransi, ah itu mah basi, udah kenyang kita di beri cap intoleransi, anti kebinekaan, anti pancasila, seolah blok ono paling toleran, paling pancasila.

Jadi...
Biarkan mereka menggonggong khafilah 212 tetap berlalu, kalau perlu setiap tahun ada reuni 212, untuk kesatuan umat, dibilang kegiatan politik ya deklarasikan saja secara terbuka ini kegiatan politik luh mau apa? Tujuannya apa? Ya kita cari pemimpin yg peduli islam di 2019, secara konstitusional lewat pemilu, gitu aja kok repot

Rabu, 15 November 2017

Media telah siuman


Pers atau media sering diberi julukan heroik, media adalah pilar keempat demokrasi setelah eksekutif, legislatif dan yudikatif, media punya fungsi sebagai wacth dog atau anjing penjaga apabila tiga pilar itu menyeleweng.

Pada era orde baru media terkungkung dengan ketat di bawah pengawasan regim otoriter, muncul instilah telepon malam hari, apabila ada sebuah peristiwa yang dianggap dapat membahayakan rezim, maka di malam hari para redaktur media dapat telepon malam hari untuk tidak memberitakan.

Melalui politik perijinan media dikendalikan penguasa, bermodal SIUP, sebuah media dapat ijin terbit, tatkala dianggap menyimpang dari ketentuan maka siup di cabut media langsung mati.

Di era rezim ini media secara sadar telah berubah fungsi dari pengawas menjadi pendukung, media telah kehilangan daya kritis, karena pemiliknya masuk dalam lingkaran kekuasaan. Ada juga karena kesamaan ideologi dengan rezim ini, maka dengan sukarela menjadi pendukung setia, jadilah media corong penguasa yang menghamba pada kekuasaan dan membenarkan apapun tindakan penguasa.

Kasus pemilihan gubernur Jakarta menjadi contoh telanjang bagaimana media utama menjadi pendukung penista, prestasi incumbent dibeberkan tanpa cela, seolah ahok manusia paripurna tanpa cela, visioner, berani dan sangat hebat.

Namun ketika rezim ahok tumbang perlahan namun pasti, borok2 ahok terlihat, membangun tanpa amdal, banjir yang masih banyak muncul di jakarta, reklamasi bermasalah dan kedepan akan terlihat borok2 rezim ahok akan terbuka.

Alhamdulilla Media sudah berani melakukan koreksi pada penguasa, terutama kepada anies-sandi, padahal usia pemerintahan belum seumur jagung, media begitu bernafsu meminta anies memenuhi janji2 politiknya, walaupun secara logika itu tidak masuk akal, masa bakti lima tahun, belum satu bulan berkuasa sudah ditagih janji bejibun, lah yang sudah tiga tahun berkuasa saja janjinya masih panggang jauh dari api.

terlepas dari kepentingan apapun, media yg kritis terhadap kekuasaan itu sangat diperlukan, agar penguasa ada kontrol, jadi sangat positif anies di kontrol penuh media agar amanah yang diberikan tidak di selewengkan.

Namun kritik media sekarang ini banyak dipenuhi salah kutip dan interpretasi wartawan (bisa jadi di sengaja) dalam mengutip omongan pejabat, anies-sandi sering jadi korban salah kutip, contoh tiba-tiba muncul berita, sandi berkata penyebab macet tanah abang adalah pejalan kaki, padahal dalam video yg beredar tidak ada ucapan sandi seperti itu, anehnya sekelas cnn juga salah kutip.

Kasus paling baru katanya ananda sukarlan wo bersama ratusan alumni kanisius, video menunjukan anies disambut antusias, ketua panitia membantah ada ratusan orang wo, tanpa konfirmasi, cek dan ricek media begitu saja melahap berita itu, mereka hanya konfirmasi pada ananda bukan kepada panitianya, seperti ada pola begitu ada umpan yg merusak anies langsung tulis, ketika salah di koreksi, lucunya ada yg di koreksi sesudah berita dimuat satu tahun wkkkk.

Sayangnya media begitu agresif membedah anies-sandi, dan amnesia dan tumpul daya kritis ketika memberitakan pemerintah pusat dan presiden sekarang, semua ok, bagus, tanpa cela, terus kalau ada ada yang mencoba memberitakan yg negatif para buzzer siap membully.

Tetapi kita tetap harus bersyukur ada keseimbangan baru, media sudah siuman dari tidur panjang daya kritis, anies-sandi adalah sansak tinju yang empuk buat menghantam segala keburukan penguasa, sehingga anies-sandi akan lebih hati2 menjalankan amanah, tahan banting dan istqomah.

Satu catatan penting yg harus di ingat, jika kepemimpinan anda di puja-puji terus menerus oleh pengikut anda dan pers ikut menyanjung setinggi langit, tanpa ada yg berani koreksi maka itu tanda2 kepemimpinan anda menuju kematian, pujian berlebihan tanpa fakta, akan melahirkan penjilat yang miskin daya kritis, waspadalah

Selamat siuman dari tidur panjang para insan pers, jujur ya saya dulu sangat percaya pada akurasi berita media arus utama, sekarang sih sudah lama tidak percaya, lebih banyak menebar hoax ketimbang fakta, jadi kalau ada kasus seumpama ummat memboikot sesuatu, itu bukan berarti bodoh, ummat sudah cerdas, tidak menelan mentah2 berita hoax dari media utama, boikot itu salah satu bentuk perlawanan, meskipun banyak yang nyinyir

Mereka yang nyinyir itu belum tentu pintar bisa jadi dia pelahap informasi hanya dari media utama, seperti kata rocky gerung pencipta hoax terbesar adalah pemerintah termasuk media2 pendukungnya.

Jumat, 03 November 2017

Legalitas


Sebagai salah satu penggiat ukm saya selalu menyarankan anggota saya untuk senantiasa mengurus legalitas usaha, kenapa? Karena legalitas usaha adalah wujud ketaatan kita kepada hukum negara, bahwa seorang pebisnis bukanlah orang yg tidak sadar hukum, bahwa pebisnis adalah manusia langka yang mengangap sebuah aturan itu bukan pengekang, tapi sebuah keharusan yang harus ditaati dan di patuhi, untuk kebaikan bersama.

Secara pribadi saya melengkapi semua legalitas usaha produk usaha saya bandeng rorod, mulai dari skdu, siup, tdp, pirt, haki sampai ijin edar MD dari BPOM, alhamdulillah sudah tuntas semua.

Banyak kasus pelaku ukm yang dianggap tidak sadar hukum dan mendapat teguran keras, teringat kasus bebyluck yg di grebek bpom, kasus kawan saya yang lagi ikut pendampingan bpom untuk urus ijin edar md, produknya kena razia bpom disalah satu pasar modern besar, ada juga kawan produksi bakso yang tidak punya ijin jadi sapi perah aparat.

Lebih parah banyak pelaku usaha pemula baru mau urus ijin di tingkat bawah kelurahan dan kecamatan, sudah di kenakan biaya ratusan ribu hanya untuk selembar SKDU dan SIUP, padahal gratis.

Sejatinya mereka bukan tidak sadar hukum, mereka membangun usaha bertumbuh dari kecil hingga membesar dengan modal seadanya, lalu mereka paham aturan, terus mencoba ikut aturan, sebelum ijin keluar terciduk, tragis sudah sadar hukum terkena razia pula.

Lalu apakah teman-teman saya ini kalah? Tidak justru mereka semakin kuat, semakin bulat tekadnya, sekuat tenaga mereka berupaya mengajukan ijin untuk memperkuat usahanya, alhamdulillah sudah ada yg keluar ijin edarnya, ada yang masih proses ada pula yg terseok-seok karena faktor daya dan dana.

Saya bener benar merasa geram manakala ada pengusaha besar deket dengan kekuasaan begitu mudah membangun sesuatu, langsung dijual kemasyarakat tanpa ijin komplit, terus sang penguasa yg membaking dengan enteng bilang ijin itu soal administratif, mudah dibuat dan diatur, What? Enteng banget ngomongnya.

Dengan embel-embel membantu perekonomian negara dan menyerap tenaga kerja dengan mudah aturan diabaikan, luh pikir gue ukm tidak bantu perekonomian negara dan menyerap tenaga kerja?

Meikarta dan Reklamasi adalah contoh buruk aspek perijinan yg diabaikan, tanpa IMB ratusan bangunan sudah berdiri, seorang menteri bahkan menjadi baking dan meresmikan salah satu tahapan pembangunan sebuah apartemen di Meikarta.

Sudirman Said dalam diskusi ILC bilang warga yg bangun kontrakan di Condet, hanya beberapa kontrakan tidak punya IMB langsung di bongkar, lah di proyek reklamasi ratusan bangunan tanpa IMB bisa berdiri tegak tidak dirobohkan

Inilah contoh ketidak adilan telanjang yang di perlihatkan pemerintah, pada satu sisi ukm di minta taat aturan dengan cara keras, melakukan razia dan penggerebegan namun disisi lain para pengusaha kakap dengan santai membangun tanpa ijin dibiarkan.

Lalu anda para pelaku ukm haruskah mencontoh mereka mengabaikan ijin? Jangan! kira harus tetap punya etika, taat hukum dan tidak perlu mengemis pada pemerintah untuk melonggarkan ijin, kita adalah petarung tangguh yang selalu mandiri yang tidak perlu baking pejabat hanya karena soal ijin.

Kita harus buktikan kepada negara, bahwa ukm dinegeri ini dengan tulus membantu perekonomian negara, menyerap tenaga kerja dan memberi kontribusi pada keuangan negara, tanpa embel-embel mengabaikan perijinan.

Biarkan para manusia serakah itu berbuat semaunya, ketika tangan kita tidak mampu mencegah ketika penguasa sudah berkolaborasi dengan pengusaha, masih ada tangan Tuhan untuk menegur mereka. Tuhan tidak mati kawan.

Maka ketika Anies berani membuat kebijakan menutup hotel yg melanggar aturan walaupun hotel itu menyumbang pajak puluhan milyar kita patut bertepuk tangan, hukum tidak tajam kebawah saja, ternyata hukum tajam keatas juga, sebuah pusat hiburan yg konon punya kontribusi pajak 30 milyar/tahun ditutup, karena melanggar ijin.

Ketika ditanyakan tidak takut kehilangan uang yg begitu besar? Anies menjawab tegas "Kita pakai akal sehat nih, apakah karena pemasukan yang banyak lalu pelanggaran dibiarkan? Apa negeri ini mau diatur dengan pemasukan? Kalau negeri ini diatur dengan pemasukan, kita enggak punya aturan nanti," ujar Anies.

Bangga saya ada pemimpin yang berani menegakan aturan tanpa tergiur uang, apalagi bicara halal haram dan berkah, ini sebuah fenomena baru, dimana seorang pemimpin di negeri ini masih berani menegakan peraturan tanpa pandang bulu, berani mengungkap keyakinan agama tanpa perlu dicap radikal.

Jadi masih ada setitik harapan untuk indonesia yang lebih baik, masih ada pemimpin yang tidak terkontaminasi pada bujukan pemodal, jadi kita doakan agar anies dan sandi pandai meniti buih di tengah arus pemujaan pada materi.

Selasa, 03 Oktober 2017

Pencitraan

Pencitraan sebuah produk itu penting, karena pencitraan yang bagus bakal mampu mendongkrak penjualan produk, contoh pencitraan paling efektif adalah media televisi, ketika produk diliput media tv, dikupas tuntas dengan kemasan gambar apik maka penjualan bisa melejit, tapi harus ingat, pencitraan berlebihan tanpa di imbangi oleh pelayanan, mutu produk dam ketersedian barang, pencitraan bisa menjadi bumerang.

Di era medsos booming sekarang ini, membangun pencitraan diri dan produk itu gampang, tinggal eksis dan bangun image kalau perlu modal dengan memasang iklan di medsos, maka citra produk dan ownernya bisa terangkat, tapi citra di sosmed bisa jadi semu, karena bisa di rekayasa, bisa dipoles dan bisa di bayar, pada ujungnya citra yang bagus harus di tunjang oleh performa produk yang bagus juga.

Banyak cara selain iklan untuk membuat produk terkenal, bertindak nyeleneh misalnya seperti pemilik nikahsirri.com he..he.he dalam waktu singkat meledak dan ujungnya menjadi tindak pidana.

So jangan cuma politisi yang jago pencitraan, anda para wirausawan harus berani membuat pencitraan produk, kalau politisi membangun citra dengan tebar pesona jelang pemilu, tetiba inget pada rakyat, rajin ngunjungin rakyat, begaya jadi pembela rakyat.

Produk wirausaha membangun citra dengan kampanye positif, produk memang bermutu bukan asal, harga sebanding dengan mutu dan jangan lupa rajin kampanye atau iklan seperti politisi.

Tapi sekali lagi produk anda jangan seperti politisi, bangun citra setinggi langit saat kampanye, begitu terpilih lupa janji, jika produk anda rajin iklan setelah laku mengabaikan aspek mutu dan tidak memperhatikan suara konsumen, bersiap seperti politisi pemilu berikutnya tidak laku.

So bandeng rorod mah, mutu sebanding dengan harga, produk kami telah memiliki ijin bpom, yang mensyaratkan ketat untuk lolos mendapatkan ijin edar tersebut. Jadi segera beli bandeng rorod !!! Loh kok iklan

Senin, 02 Oktober 2017

Sedekah Ujung Jari

Sehabis menikmati perjalanan sama abang gojek, kita diminta memberi bintang, jika kurang dari lima bintang gojek akan bertanya kenapa? Kita disuruh memilih jawaban atas ketidak puasan pelayanan abang gojek.

Pernahkah anda menilai dibawah bintang lima? Saya selalu memberi bintang lima, walau pelayanan terkadang mengecewakan, sebisa mungkin kekecewaan itu tidak saya ekpresikan dengan mengurangi bintang, kenapa?

Karena ujung jari kita bisa membuat sahabat kita abang gojek menjadi terbantu kinerjanya, menjadi terbantu rezekinya.

Di era medsos sekarang ini sedekah teramat mudah cukup dengan ujung jari :

Buatlah status ujaran kebaikan, inspiratif dan edukatif yang mampu membawa pembaca status anda menjadi termotivasi maka anda sudah melakukan sedekah ujung jari.

Berikan like dan coment yang baik pada status teman juga sudah sedekah ujung jari, memberikan like pada painpage teman juga sudah sedekah ujung jari.

Ah betapa mudahnya sedekah kita, murah meriah namun membawa manfaat
Senin barokah yuk banyak bersedekah, banyak menebar manfaat.